Tampilkan postingan dengan label Upacara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Upacara. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Februari 2013

Sesangi

Sesangi disebut sebagai “bebeligan” artinya tergelincir, maksudnya keliru. Disebut juga “saud atur” artinya salah ucapan, maksudnya juga keliru. Keliru yang bagaimana?
Keliru dalam menjalin hubungan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Kasih sayang kepada Hyang Widhi disebut BHAKTI. Cara kita ber-bhakti yang benar adalah dengan meresapi dan menjalani kehidupan sesuai dengan aturan-Nya.
Perhatikanlah Mantram Gayatri, Puja Trisandya, Kramaning sembah. Tidak ada satu kata pun yang berbentuk sesangi. Inti segala doa adalah semoga Hyang Widhi yang Maha Kuasa memberikan petunjuk kepada kita di jalan Dharma, serta mohon pengampunan atas pelanggaran-pelanggaran Trikaya parisudha.
Dengan mesesangi, secara tidak sadar anda mengungkung atman kepada kondisi keterikatan. Di sinilah letak kekeliruannya. Mestinya segala aktivitas didorong atau dimotivasi oleh niat melaksanakan Dharma sebaik-baiknya, tanpa memikirkan atau menghayalkan hasilnya.
Ingat catur purusha artha: DHARMA, ARTHA, KAMA, MOKSA. Dharma hendaknya dilaksanakan terlebih dahulu, karena dengan Dharma Hyang Widhi akan melimpahkan karunia-Nya berupa Artha, kemudian dengan Artha manusia bisa memenuhi Kama (kebutuhan hidup: sandang, pangan, papan, dll).
Ketiga unsur itu yang dapat mengantarkan manusia ke alam Moksa. Jadi singkatnya, dengan mesesangi anda terperosok dalam motivasi: RESULT ORIENTED, bukan PROCESS ORIENTED.

Upacara Tiga Bulanan dan Otonan

Urutan upacara:
  1. Ayah dan ibu bayi mebeakala dengan tujuan menghilangkan cuntaka karena melahirkan.
  2. Nyama bajang dan kandapat “diundang” untuk dihaturi sesajen sebagai ucapan terima kasih karena telah merawat bayi sejak dalam kandungan sampai lahir dengan selamat. Tattwa yang sebenarnya adalah syukuran kehadapan Hyang Widhi atas kelahiran bayi.
  3. Si Bayi natab banten bajang colong, artinya menerima lungsuran (prasadam) dari “kakaknya”, yaitu kandapat (plasenta: ari-ari, getih, lamas, yeh-nyom).
  4. Si Bayi “mepetik” (potong rambut, terus digundul, menghilangkan rambut “kotor” yang dibawa sejak lahir).
  5. Si Bayi “mapag rare” (disambut kelahirannya) di Sanggah pamerajan, memberi nama, dan menginjakkan kaki pertama kali di tanah di depan Kemulan.
  6. Si Bayi menerima lungsuran (prasadam) Hyang Kumara, yaitu manifestasi Hyang Widhi yang menjaga bayi.
  7. Si Bayi “mejaya-jaya” dari Sulinggih, yaitu disucikan oleh Pendeta.
Simbol (niyasa) yang digunakan dalam upacara Tiga Bulanan:
  1. Regek, yaitu anyaman 108 helai daun kelapa gading berbentuk manusia, sebagai simbol Nyama Bajang;
  2. Papah, yaitu pangkal batang daun kelapa gading sebagai simbol ari-ari,
  3. Pusuh, yaitu jantung pisang sebagai simbol getih (darah),
  4. Batu, sebagai simbol yeh-nyom,
  5. Blego, sebagai simbol lamas,
  6. Ayam, sebagai simbol atma,
  7. Sebuah periuk tanah yang pecah, sebagai simbol kandungan yang sudah melahirkan bayi,
  8. Lesung batu, sebagai simbol kekuatan Wisnu,
  9. Pane, simbol Windu (Hyang Widhi),
  10. Air dalam pane, simbol akasa,
  11. Tangga dari tebu kuning sepanjang satu hasta diberi palit (anak tangga) tiga buah dari kayu dapdap , sebagai simbol Smara-Ratih (Hyang Widhi yang memberi panugrahan kepada suami-istri).
Upacara otonan lebih sederhana dari tiga bulanan, karena tujuannya mengucapkan syukur kepada Hyang Widhi atas karunia berupa panjang umur, serta mohon keselamatan dan kesejahteraan.

Pitra Yadnya

1. Pitra Yadnya terdiri dari empat tahapan upacara, yaitu:
  1. Ngaben: melepaskan ikatan roh pada tubuh manusia (panca mahabhuta)
  2. Nyekah/ Ngroras: melepaskan ikatan roh pada pengaruh panca indria (panca tanmatra)
  3. Mepaingkup: menstanakan roh di sanggah pamerajan
  4. Meajar-ajar: ‘nangkilang’ roh ke pura-pura tertentu
2. Diantara proses ngaben dan nyekah, ada upacara nyegara-gunung, tujuannya adalah mensucikan roh ke segara dan memohon anugrah ke gunung sebagai sumber kemakmuran.
Pura-pura yang biasa dituju untuk upacara nyegara gunung misalnya: goa lawah, tanah lot, pulaki, ponjok batu, silayukti, rambut siwi, dll.
3. Pura-pura yang dituju dalam upacara meajar-ajar adalah: lempuyang, silayukti, dasar bhuwana – gelgel, dan besakih.
4. Upacara mendak nuntun Dewa Hyang dilakukan tidak dalam rangkaian Pitra Yadnya. Upacara ini hanya satu kali saja dilakukan, yakni di saat membangun pelinggih Dewa Hyang atau Raja-Dewata di sanggah pamerajan.
Prosedurnya: nuntun di Pura Dalem Puri, Besakih, kemudian dilanjutkan dengan nangkilang ke Pura-pura tertentu, dalam perjalanan kembali pulang.
5. Rangkaian upacara di beberapa soroh dan beberapa desa ada yang berbeda, sebabnya:
  1. kurang memahami makna upacara-upacara dimaksud.
  2. mengikuti dresta yang juga tidak diketahui sumber sastranya yang tepat.
6. Upakara yang digunakan dalam upacara-upacara itu, tergantung kemampuan masing-masing. Upakara/ banten yang minimal: pejati. Bila dananya cukup, boleh menggunakan suci agung dengan ulam bebek dan mesalaran.

Nyegara Gunung

Filosofi upacara nyegara gunung: nyegara (ke-segara) mensucikan roh leluhur dengan sapta (7) gangga (air suci), yakni 7 sungai suci di India: Gangga, Sindhu, Saraswati, Yamuna, Godawari, Narmada, Sarayu.
Di tempat-tempat tersebut Weda diwahyukan kepada 7 Maha Rsi: Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, Kanwa.
Oleh karena kita di Bali tidak mungkin nangkilang roh leluhur ke sungai-sungai itu dan dengan pengertian bahwa ketujuh sungai suci itu semuanya bermuara ke laut, dan laut di dunia menyatu, maka bagi kita laut telah disucikan oleh ke-7 sungai itu.
Maka timbullah keyakinan adanya tirta amertha kamandalu itu di tengah laut (ring telenging samudra).
Jadi dengan mengiring roh leluhur ke laut (Pura-Pura didekat laut: Pulaki, Ponjok Batu, Rambut Siwi, Tanah Lot, Klotok, Goa Lawah, dll) maka sudah sama dengan pergi metirta yatra ke ke-7 sungai suci di India itu.
Gunung adalah sumber kemakmuran, karena gunung sarana turunnya hujan – air (Bhatara Wisnu).
Jadi nangkilang roh leluhur ke gunung (Pura-Pura di pegunungan: Besakih, Lempuyang, Andakasa, Puncak Mangu, dll) bermakna mohon rezeki (kemakmuran) bilamana nanti roh leluhur diharuskan oleh Sanghyang Yamadipati untuk lahir kembali ke dunia (reinkarnasi)
Pura-Pura yang “wajib” dikunjungi bagi semeton Pasek dalam upacara meajar-ajar (nyegara gunung), urut-urutannya:
  1. Lempuyang (Telaga Sawang, Puncak Bisbis, Lempuyang Madya, Pasar Agung, Lempuyang Luhur)
  2. Silayukti (Pura Mpu Kuturan dan Pura Mpu Bharadah)
  3. Goa Lawah
  4. Pura Dasar Bhuwana Gelgel
  5. Pura Dalem Puri (Besakih)
  6. Pedarmaan Pasek (Besakih)
  7. Penataran Agung (Besakih)
Banten di tiap-tiap Pura itu: Suci Agung dan Pejati (23) dan untuk di Goa Lawah dan di Dalem Puri Suci Agung ditambah salaran bebek selem dan ayam selem.
Setelah pulang, daksina lingga (stana roh leluhur) dimasukkan kembali ke merajan (pelinggih Raja Dewata/ Hyang Kompyang) dengan banten suci akedengan.
Buku acuan: Berbakti pada leluhur, Upacara Pitra Yadnya dan Upacara Nuntun Dewa Hyang. I Ketut Wiana, Paramita, 1998