Senin, 04 Februari 2013

Hubungan Seks di Luar Nikah Menurut Hindu

Prinsipnya, hubungan seks di luar nikah oleh agama manapun dilarang. Bagi pemeluk Hindu di Bali, diuraikan dalam Trikaya Parisudha tentang Kayika, yang disebut: “tan paradara”.
Pengertian tan paradara ini diartikan luas sebagai menggoda, bersentuhan seks, berhubungan seks, bahkan menghayalkan seks dengan wanita/ lelaki lain yang bukan istri/ suaminya yang sah.
Dalam kitab-kitab suci antara lain Manawadharmasastra, Sarasamuscaya, dan Parasaradharmasastra, hubungan seks senantiasa dianggap sebagai hal yang suci yang hanya diperkenankan setelah melalui proses pawiwahan yang menurut Manawadharmasastra ada delapan cara.
Dalam Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu yang disahkan oleh PHDI tahun 1987 diatur tentang keadan cuntaka (tidak suci menurut keyakinan agama Hindu) yang berhubungan dengan masalah seks di luar nikah (pawiwahan) sebagai berikut:
1. Wanita hamil tanpa beakaon dan “memitra ngalang” (kumpul kebo), yang kena cuntaka adalah wanita itu sendiri beserta kamar tidurnya. Cuntaka ini berakhir bila dia dinikahkan dalam upacara pawiwahan.
2. Anak yang lahir dari kehamilan sebelum pawiwahan (panak dia-diu), yang kena cuntaka: si wanita (ibu), anak, dan rumah yang ditempatinya. Cuntaka ini berakhir bila anak itu ada yang “meras” yaitu diangkat sebagai anak dengan upacara tertentu.
Jika dihayati lebih jauh, seolah-olah hukuman cuntaka itu hanya ditimpakan kepada wanita dan anak-anak saja. Pertanyaannya bagaimana mengenai si lelaki pasangan zina/ kumpul kebonya apakah terkena cuntaka juga?
Secara tegas kesatuan tafsir tidak mengatur, tetapi dosa atas perbuatan paradara jelas disebutkan dalam Sarasamuscaya.
Selain itu pawiwahan yang menyimpang dari ajaran agama juga dinyatakan sebagai dosa yang disebutkan dalam Manawadharmasastra dan Parasaradharmasastra.


Bolehkah Dalam Keadaan Hamil Mengikuti Upacara Potong Gigi?

Ibu-Ibu/ Wanita yang sedang hamil tidak dibolehkan melakukan upacara potong gigi/ mepandes. Dasar acuannya: Lontar Catur Cuntaka. Penjelasan:
1. Mepandes adalah suatu upacara yang menyebabkan diri cuntaka.
Lamanya cuntaka, saat dia naik ke bale petatahan, selama metatah, dan sampai selesai, diakhiri dengan mabeakala. Setelah mabeakala barulah cuntakanya hilang. Prosesi itu memakan waktu antara 1-2 jam. Walaupun masa cuntaka itu singkat, tetap saja Ibu itu kena cuntaka.
2. Bayi atau jabang bayi yang ada dalam kandungan adalah roh suci yang patut dihormati, dipuja atas perkenan Sanghyang Widhi yang “mengijinkan” roh itu menjelma kembali menjadi manusia (walaupun masih berupa janin).
Jadi Ibu yang mengandung bayi yang suci, patut dihindarkan dari penyebab-penyebab cuntaka. Tidak hanya potong gigi saja, tetapi juga semua jenis cuntaka, misalnya: ngelayat orang mati, mengunjungi penganten (pawiwahan), memegang orang-orang sakit (sakit gede – lepra, aids dll).
Jadi demi keselamatan Ibu dan Bayi, sebaiknya upacara potong gigi itu ditunda sampai bayinya lahir dan sudah berusia lebih dari 3 bulan.

Sesangi

Sesangi disebut sebagai “bebeligan” artinya tergelincir, maksudnya keliru. Disebut juga “saud atur” artinya salah ucapan, maksudnya juga keliru. Keliru yang bagaimana?
Keliru dalam menjalin hubungan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Kasih sayang kepada Hyang Widhi disebut BHAKTI. Cara kita ber-bhakti yang benar adalah dengan meresapi dan menjalani kehidupan sesuai dengan aturan-Nya.
Perhatikanlah Mantram Gayatri, Puja Trisandya, Kramaning sembah. Tidak ada satu kata pun yang berbentuk sesangi. Inti segala doa adalah semoga Hyang Widhi yang Maha Kuasa memberikan petunjuk kepada kita di jalan Dharma, serta mohon pengampunan atas pelanggaran-pelanggaran Trikaya parisudha.
Dengan mesesangi, secara tidak sadar anda mengungkung atman kepada kondisi keterikatan. Di sinilah letak kekeliruannya. Mestinya segala aktivitas didorong atau dimotivasi oleh niat melaksanakan Dharma sebaik-baiknya, tanpa memikirkan atau menghayalkan hasilnya.
Ingat catur purusha artha: DHARMA, ARTHA, KAMA, MOKSA. Dharma hendaknya dilaksanakan terlebih dahulu, karena dengan Dharma Hyang Widhi akan melimpahkan karunia-Nya berupa Artha, kemudian dengan Artha manusia bisa memenuhi Kama (kebutuhan hidup: sandang, pangan, papan, dll).
Ketiga unsur itu yang dapat mengantarkan manusia ke alam Moksa. Jadi singkatnya, dengan mesesangi anda terperosok dalam motivasi: RESULT ORIENTED, bukan PROCESS ORIENTED.

Upacara Tiga Bulanan dan Otonan

Urutan upacara:
  1. Ayah dan ibu bayi mebeakala dengan tujuan menghilangkan cuntaka karena melahirkan.
  2. Nyama bajang dan kandapat “diundang” untuk dihaturi sesajen sebagai ucapan terima kasih karena telah merawat bayi sejak dalam kandungan sampai lahir dengan selamat. Tattwa yang sebenarnya adalah syukuran kehadapan Hyang Widhi atas kelahiran bayi.
  3. Si Bayi natab banten bajang colong, artinya menerima lungsuran (prasadam) dari “kakaknya”, yaitu kandapat (plasenta: ari-ari, getih, lamas, yeh-nyom).
  4. Si Bayi “mepetik” (potong rambut, terus digundul, menghilangkan rambut “kotor” yang dibawa sejak lahir).
  5. Si Bayi “mapag rare” (disambut kelahirannya) di Sanggah pamerajan, memberi nama, dan menginjakkan kaki pertama kali di tanah di depan Kemulan.
  6. Si Bayi menerima lungsuran (prasadam) Hyang Kumara, yaitu manifestasi Hyang Widhi yang menjaga bayi.
  7. Si Bayi “mejaya-jaya” dari Sulinggih, yaitu disucikan oleh Pendeta.
Simbol (niyasa) yang digunakan dalam upacara Tiga Bulanan:
  1. Regek, yaitu anyaman 108 helai daun kelapa gading berbentuk manusia, sebagai simbol Nyama Bajang;
  2. Papah, yaitu pangkal batang daun kelapa gading sebagai simbol ari-ari,
  3. Pusuh, yaitu jantung pisang sebagai simbol getih (darah),
  4. Batu, sebagai simbol yeh-nyom,
  5. Blego, sebagai simbol lamas,
  6. Ayam, sebagai simbol atma,
  7. Sebuah periuk tanah yang pecah, sebagai simbol kandungan yang sudah melahirkan bayi,
  8. Lesung batu, sebagai simbol kekuatan Wisnu,
  9. Pane, simbol Windu (Hyang Widhi),
  10. Air dalam pane, simbol akasa,
  11. Tangga dari tebu kuning sepanjang satu hasta diberi palit (anak tangga) tiga buah dari kayu dapdap , sebagai simbol Smara-Ratih (Hyang Widhi yang memberi panugrahan kepada suami-istri).
Upacara otonan lebih sederhana dari tiga bulanan, karena tujuannya mengucapkan syukur kepada Hyang Widhi atas karunia berupa panjang umur, serta mohon keselamatan dan kesejahteraan.

Pitra Yadnya

1. Pitra Yadnya terdiri dari empat tahapan upacara, yaitu:
  1. Ngaben: melepaskan ikatan roh pada tubuh manusia (panca mahabhuta)
  2. Nyekah/ Ngroras: melepaskan ikatan roh pada pengaruh panca indria (panca tanmatra)
  3. Mepaingkup: menstanakan roh di sanggah pamerajan
  4. Meajar-ajar: ‘nangkilang’ roh ke pura-pura tertentu
2. Diantara proses ngaben dan nyekah, ada upacara nyegara-gunung, tujuannya adalah mensucikan roh ke segara dan memohon anugrah ke gunung sebagai sumber kemakmuran.
Pura-pura yang biasa dituju untuk upacara nyegara gunung misalnya: goa lawah, tanah lot, pulaki, ponjok batu, silayukti, rambut siwi, dll.
3. Pura-pura yang dituju dalam upacara meajar-ajar adalah: lempuyang, silayukti, dasar bhuwana – gelgel, dan besakih.
4. Upacara mendak nuntun Dewa Hyang dilakukan tidak dalam rangkaian Pitra Yadnya. Upacara ini hanya satu kali saja dilakukan, yakni di saat membangun pelinggih Dewa Hyang atau Raja-Dewata di sanggah pamerajan.
Prosedurnya: nuntun di Pura Dalem Puri, Besakih, kemudian dilanjutkan dengan nangkilang ke Pura-pura tertentu, dalam perjalanan kembali pulang.
5. Rangkaian upacara di beberapa soroh dan beberapa desa ada yang berbeda, sebabnya:
  1. kurang memahami makna upacara-upacara dimaksud.
  2. mengikuti dresta yang juga tidak diketahui sumber sastranya yang tepat.
6. Upakara yang digunakan dalam upacara-upacara itu, tergantung kemampuan masing-masing. Upakara/ banten yang minimal: pejati. Bila dananya cukup, boleh menggunakan suci agung dengan ulam bebek dan mesalaran.

Nyegara Gunung

Filosofi upacara nyegara gunung: nyegara (ke-segara) mensucikan roh leluhur dengan sapta (7) gangga (air suci), yakni 7 sungai suci di India: Gangga, Sindhu, Saraswati, Yamuna, Godawari, Narmada, Sarayu.
Di tempat-tempat tersebut Weda diwahyukan kepada 7 Maha Rsi: Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, Kanwa.
Oleh karena kita di Bali tidak mungkin nangkilang roh leluhur ke sungai-sungai itu dan dengan pengertian bahwa ketujuh sungai suci itu semuanya bermuara ke laut, dan laut di dunia menyatu, maka bagi kita laut telah disucikan oleh ke-7 sungai itu.
Maka timbullah keyakinan adanya tirta amertha kamandalu itu di tengah laut (ring telenging samudra).
Jadi dengan mengiring roh leluhur ke laut (Pura-Pura didekat laut: Pulaki, Ponjok Batu, Rambut Siwi, Tanah Lot, Klotok, Goa Lawah, dll) maka sudah sama dengan pergi metirta yatra ke ke-7 sungai suci di India itu.
Gunung adalah sumber kemakmuran, karena gunung sarana turunnya hujan – air (Bhatara Wisnu).
Jadi nangkilang roh leluhur ke gunung (Pura-Pura di pegunungan: Besakih, Lempuyang, Andakasa, Puncak Mangu, dll) bermakna mohon rezeki (kemakmuran) bilamana nanti roh leluhur diharuskan oleh Sanghyang Yamadipati untuk lahir kembali ke dunia (reinkarnasi)
Pura-Pura yang “wajib” dikunjungi bagi semeton Pasek dalam upacara meajar-ajar (nyegara gunung), urut-urutannya:
  1. Lempuyang (Telaga Sawang, Puncak Bisbis, Lempuyang Madya, Pasar Agung, Lempuyang Luhur)
  2. Silayukti (Pura Mpu Kuturan dan Pura Mpu Bharadah)
  3. Goa Lawah
  4. Pura Dasar Bhuwana Gelgel
  5. Pura Dalem Puri (Besakih)
  6. Pedarmaan Pasek (Besakih)
  7. Penataran Agung (Besakih)
Banten di tiap-tiap Pura itu: Suci Agung dan Pejati (23) dan untuk di Goa Lawah dan di Dalem Puri Suci Agung ditambah salaran bebek selem dan ayam selem.
Setelah pulang, daksina lingga (stana roh leluhur) dimasukkan kembali ke merajan (pelinggih Raja Dewata/ Hyang Kompyang) dengan banten suci akedengan.
Buku acuan: Berbakti pada leluhur, Upacara Pitra Yadnya dan Upacara Nuntun Dewa Hyang. I Ketut Wiana, Paramita, 1998

Om Swastiastu - salam sekaligus doa

Om Swastiastu, merupakan salam pembuka yang biasa diberikan oleh orang bali kepada seseorang yang ditemuinya. Dan saat ini UMAT Hindu di Indonesia, kalau saling berjumpa dengan sesamanya, umumnya mengucapkan Om Swastyastu. Salam umat ini sekarang telah menjadi salam resmi dalam sidang-sidang Dewan Perwakilan maupun pertemuan resmi lainnya, adapun maksud dari salam tersebut adalah sapaan sekalugus doa untuk lawan bicara agar orang tersebut selalu diberkahi oleh Tuhan YME.
adapun penjelasan mengenai kata tersebut, dapat dilihat dari percakapan Rsi dengan seorang suyasa. Setelah sang Suyasa memperbaiki cara duduknya. 
Rsi Dharmakertipun mulailah: 
“Anakku, tadi anakku mengucapkan panganjali: “Om Swastyastu”. Tahukah anakndaapa artinya? 
Jika belum, dengarlah! OM adalah aksara suci untuk Sang Hyang Widhi. Nanti akan Guru terangkan lebih lanjut. Kata Swastyastu terdiri dari kata-kata Sansekerta: SU + ASTI + ASTU, Su artinya baik, Asti artinya adalah, Astu artinya mudah-mudahan. 
Jadi arti keseluruhan OM SWASTYASTU ialah “Semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Hyang Widhi”.
Kata Swastyastu ini berhubungan erat dengan simbol suci Agama kita yaitu SWASTIKA yang merupakan dasar kekuatan dan kesejahteraan Buana Agung (Makrokosmos) dan Buana Alit (Mikrokosmos). Bentuk Swastika ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan galaksi atau kumpulan bintang-bintang di cakrawala yang merupakan dasar kekuatan dari perputaran alam ini. Keadaan alam ini sudah diketahui oleh nenek moyang kita sejak dahulu kala dan lambang Swastika ini telah ada beribu-ribu tahun sebelum Masehi. 
Dan dengan ucapan panganjali Swastyastu itu anakku sebenarnya kita sudah memohon perlindungan kepada Sang Hyang Widhi yang menguasai seluruh alam semesta ini. Dan dari bentuk Swastika itu timbullah bentuk Padma (teratai) yang berdaun bunga delapan (asta dala) yang kita pakai dasar keharmonisan alam, kesucian dan kedamaian abadi. 
Sang Suyasa: 
Oh Gurunda, maafkan kalau hamba memotong. Hamba tidak mengira demikian luas maksud dari ucapan panganjali atau penghormatan hamba tadi itu. Betul-betul hamba tidak tahu artinya. Hamba hanya mendengar dmeikian, lalu hamba ikut-ikutan saja. 
Rsi Dharmakerti: 
Memanglah demikian tingi nilai dari ajaran Agama kita anaknda. Guru gembira bahwa anaknda senang mendengarnya. Ketahuilah bahwa kata SWASTI (su + asti) itulah menjadi kata SWASTIKA. Akhiran “ka” adalah untuk membentuk kata sifat menjadi kata benda. Umpamanya: jana - lahir; janaka - ayah; pawa - membakar; pawaka - api, dan lain-lainnya. Ingatkah anaknda apa yang Guru pakai untuk menjawab ucapan panganjali itu?
Rsi Dharmakerti: 
Tidak mengapa anaknda, Guru akan jelaskan bahwa arti kata OM SHANTI, SHANTI, SHANTI itu ialah: Semoga damai atas karunia Hyang Widhi” Shanti artinya damai. Dan jawaban ini hanya diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Sedangkan jawaban atau sambutan terhadap panganjali “Om Suastiastu” dari orang yang sebaya atau dari orang yang lebih tua cukuplah dengan Om Swastiastu yaitu sama-sama mendoakan semoga selamat. 
Hanya yang lebih tua patut memakai Om Shanti, Shanti, Shanti terhadap yang lebih muda. Atau dipakai juga untuk menutup suatu uraian atau tulisan. 
Sang Suyasa: 
Gurunda, maafkan atas kebodohan diri hamba. Akan sangat banyak yang hamba tanyakan supaya benar-benar sirnalah segala kegelapan yang melekat di jiwa hamba. Gurunda, walaupun kedengarannya agak ke-kanak-kanakan maafkanlah jika anaknda bertanya apa arti agama itu sendiri. Selanjutnya perlu kita pahami bersama makna apa yang berada di balik ucapan Om Swastyastu tersebut. 

Umat Hindu di India umumnya mengucapkan NAMASTE kalau bertemu dengan sesamanya. Bahkan, ucapan itu dilakukan secara umum oleh masyarakat India. Para pandita maupun pinandita dalam memanjatkan pujastawa sering kita dengar menutup pujastawanya dengan Om naamo namah. Inti semua ucapan itu pada kata naama, yang dalam bahasa Sansekerta artinya menghormat. 
Dalam bahasa Jawa Kuno disebut dengan sembah. Kata sembah dalam bahasa Jawa Kuno memiliki lima arti.  
Sembah berarti menghormati, menyayangi, memohon, menyerahkan diri dan menyatukan diri.
Karena itu, umat Hindu di Bali mengenal adanya Panca Sembah yang diuraikan dalam lontar Panca Sembah. Dalam tradisi Hindu di Bali ada sembah ke bhuta, ke manusa, ke pitra, ke dewa dan Hyang Widhi. 
adapun posisi cakupan tangan yang biasa dipakai saat menyembah:
  1. Kalau menyembah bhuta atau alam semesta tangan dicakupkan di pusar. Sembah seperti itu berarti untuk mencurahkan kasih sayang kita pada alam untuk menjaga kelestariannya. 
  2. Menyembah sesama atau pitra, mencakupkan tangan di dada. Sembah seperti itu adalah untuk menghormati sesama manusia. 
  3. Menyembah dewa tangan dicakupkan di selaning lelata yaitu di antara kening di atas mata. 
  4. Hanya menyembah Tuhanlah tangan dikatupkan dengan sikap anjali di atas ubun-ubun. Ini artinya hanya menyembah Tuhanlah kita serahkan diri secara bulat dan satukan diri sepenuh hati. 
Biasanya penggunaan “Swastyastu” disertai dengan kata “Om” menjadi “Om Swastyastu”. Kata ini lumrah digunakan sebagai salam awal, begitu juga dengan kata “Swastiprapta” (selamat datang). Namun di beberapa tempat di luar bali kata “Swastyastu” juga digunakan sebagai salam akhir perjumpaan atau percakapan. Itu yang membuat rasa ingin tahu saya semakin besar untuk mengetahui arti sebenarnya kata tersebut agar tidak menjadi sebuah kekeliruan yang membudaya. Memang pada dasarnya bahasa bersifat mana suka dan berlaku jika diakui dan digunakan oleh banyak orang. Dalam kesempatan ini saya mencoba menelaah kata tersebut dengan mencari artinya pada beberapa literatur kamus yang ada (apang tusing oranga milu-milu tuwung, nak mula keto….!!!). 
Salam Om Swastyastu yang ditampilkan dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Maha esa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Purana-lah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan. 
Dalam Bhagawad Gita kata "Om" ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan. 
Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. 
Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng. 
Menurut ajaran Hindu alam semesta ini berproses dalam tiga tahap. Pertama, alam ini dalam keadaan tercipta yang disebut Srsti. Kedua, dalam keadaan stabil menjadi tempat dan sumber kehidupan yang membahagiakan. Keadaan alam yang dinamikanya stabil memberikan kebahagiaan itulah yang disebut swastika. 
Dalam istilah swastika itu sudah tersirat suatu konsep bahwa dinamika alam yang stabil itulah sebagai dinamika yang dapat memberikan kehidupan yang bahagia dan langgeng. Dinamika alam yang stabil adalah dinamika yang sesuai dengan hak asasinya masing-masing. Ketiga, adalah alam ini akan kembali pada Sang Pencipta. Keadaan itulah yang disebut alam ini akan pralaya atau dalam istilah lain disebut kiamat. 
  1. Kamus Bahasa Bali Kata “Swastyastu” berasal dari kata suasti, yang berarti selamat, menjadi suastiastu yang berarti semoga selamat. 
  2. Kamus Kawi-Bali “Swastyastu berasal dari kata swasti yang berarti raharja, rahayu, bagia, dan rahajeng. Astu yang berarti dumadak, patut, sujati, sinah. Kata astu berkembang menjadi “Astungkara” yang berarti puji, alem dan sembah. Sehingga “swastyastu” berarti semoga selamat, semoga berbahagia
  3. Kamus Jawa Kuna-Indonesia “Swasti” berarti kesejahteraan, nasib baik, sukses; hidup, semoga terjadilah (istilah salam pembukaan khususnya pada awal surat atau dalam penerimaan dengan baik). Sedangkan “astu” memiliki 2 arti yaitu: 1. Semoga terjadi, terjadilah…. (seringkali pada awal sesuatu kutuk, makian, berkah, ramalan), pasti akan….. 2. Nyata-nyata, sungguh-sungguh (campuran dengan “wastu”?). Kata "astu" berkembang menjadi “astungkara” yang berarti berkata “astu”, mengakui, mengiyakan dengan segan, perkataan “astu”. Dari pengertian tersebut kata “swastyastu” berarti semoga terjadilah nasib baik, sungguh sejahtera. 
  4. Kamus Sanskerta-Indonesia “Svasti” berarti hujan batu es, salam, selamat berpisah, selamat tinggal. Berkembang menjadi “svastika”, “svastimukha”, “svastivacya”. Kata svastika berarti tanda sasaran gaib, tidak mendapat halangan, pertemuan empat jalan, lambang agama Hindu. Svastimukha berarti yang belakang, terakhir, penyanyi, penyair. Svastivacya berarti salam ucapan selamat. Kata “astu” berarti sungguh, memuji. Dari pengertian kedua kata tersebut dapat disimpukan “svastiastu” berarti menyatakan selamat berpisah. 
Dari beberapa pengertian kata dalam kamus-kamus tersebut, dapat ditarik sebuah benang merah yang saling terkait satu sama lainnya yaitu: 
  • pengertian “Swastyastu” dalam kamus Bahasa Bali, Kawi Bali dan Jawa Kuna memiliki pengertian yang hampir sama, yaitu berarti semoga selamat, semoga bahagia, semoga sejahtera. Sedangkan dalam kamus Sanskerta berarti pernyataan selamat berpisah, selamat tinggal 
  • kata “astu” sebagai penutup hanya mempertegas kata “svasti” yang memang memiliki arti semoga, selamat berpisah, selamat jalan. 
Pada dasarnya pengertian “swastyastu” pada keempat kamus itu adalah sama, saling melengkapi satu sama lainnya, yaitu Ya Tuhan semoga kami selamat, selamat tinggal dan semoga sejahtera (Semoga sejahtera dalam lindungan Hyang Widhi), tidak ada manusia yang hidup di dunia ini tidak mendambakan keselamatan atau kerahayuan di bumi ini. Selamat tinggal disini maksudnya adalah selamat tinggal pada hal-hal sebelumnya yang telah dialami atau dilalui dan semoga selamat dan sejahtera pada apa yang akan dialami atau dilalui pada kehidupan sekarang. Dalam hidup tidak bisa dipisahkan dari tiga waktu yaitu: atita, nagata, dan wartamana (dahulu, sekarang, dan yang akan datang). 
Dalam penggunaannya pada kehidupan sehari-hari kata “swastyastu” diawali dengan kata “Om” sebagai ucapan aksara suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sehingga menjadi “Om Swastyastu”. Kata ini biasa atau lumrah digunakan sebagai salam pembuka (selain swastiprapta, yang berarti selamat datang) kemudian diakhiri dengan “Om Santih, Santih, Santih Om” yang berarti semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai di akhirat (selain swastimukha yang berarti salam penutup yang belakang). 
Namun kini di kota-kota besar, kata “swastyastu” juga digunakan sebagai salam penutup atau akhir sebuah percakapan. Bagi orang desa seperti saya, terus terang saja ketika mendengarnya terasa aneh di telinga saya, sampai pada akhirnya saya penasaran tentang penggunaan kata tersebut sebagai salam penutup dan mencari arti kata tersebut dalam beberapa kamus-kamus yang ada. Jika dilihat dari pengertian arti katanya dalam kamus memang wajar kata itu dipergunakan sebagai salam penutup sesuai dengan artinya, namun jika melihat nilai rasa maka akan terasa janggal atau kurang pas (mungkin karena saya awam atau kurang terbiasa mendengarnya). 
Dalam agama Hindu, sebuah awal adalah akhir dari semua yang terjadi, sedangkan akhir adalah sebuah awal sesuatu yang baru. Hal ini yang mungkin dijadikan patokan penggunaan kata “swastiastu” sebagai salam pembukaan dan salam penutup perjumpaan atau percakapan (selain mungkin penunjukan eksistensi terhadap agama lain bahwa agama Hindu juga memiliki salam awal dan akhir seperti halnya agama lain). Namun, jika melihat lagi pada nilai rasa, rasanya kedengaran janggal. Pada kesempatan ini saya juga mencoba menyampaikan beberapa padanan kata, yang mudah-mudahan tidak jauh berbeda artinya dengan “swastyastu” sebagai salam penutup perjumpaan atau percakapan. Beberapa kata tersebut antara lain: “swastimukha”, yang berarti permulaan (mukha) kesejahteraan, permulaan nasib baik, permulaan keselamatan; “swastisanti”, yang berarti ucapan selamat berpisah dan damai (santi), selamat jalan dan semoga damai. 
Jadi, salam Om Swastyastu itu, meskipun ia terkemas dalam bahasa Sansekerta bahasa pengantar kitab suci Veda, makna yang terkandung di dalamnya sangatlah universal. Pada hakikatnya semua salam yang muncul dari komunitas berbagai agama memiliki arti dan makna yang universal. Yang berbeda adalah kemasan bahasanya sebagai ciri khas budayanya. Dengan Om Swastyastu itu doa dipanjatkan untuk keselamatan semua pihak tanpa kecuali. 
Salam Om Swastyastu itu tidak memilih waktu. Ia dapat diucapkan pagi, siang, sore dan malam. Semoga salam Om Swastyastu bertuah untuk meraih karunia Tuhan memberikan umat manusia keselamatan. 
Demikian yang dapat saya tulis pada kesempatan ini, apabila ada kekurangannya mohon ditambahkan. Kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat saya harapkan.Suksma. 



Banten Pejati - Cara Membuat Dan Kajian Filosofis

Banten dalam agama Hindu adalah bahasa agama. Ajaran suci Veda sabda suci Tuhan itu disampaikan kepada umat dalam berbagai bahasa. Ada yang meggunakan bahasa tulis seperti dalam kitab Veda Samhita disampaikan dengan bahasa Sanskerta, ada disampaikan dengan bahasa lisan. Bahasa lisan ini sesuai dengan bahasa tulisnya.

Setelah di Indonesia disampaikan dengan bahasa Jawa Kuno dan di Bali disampaikan dengan bahasa Bali. Disamping itu Veda juga disampaikan dengan bahasa Mona. Mona artinya diam namun banyak mengandung informasi tentang kebenaran Veda dan bahasa Mona itu adalah banten. Dalam “Lontar Yajña Prakrti” disebutkan:
“sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka anda bhuana”
artinya:
semua jenis banten (upakara) adalah merupakan simbol diri kita, lambang kemahakuasaan Hyang Widhi dan sebagai lambang Bhuana Agung (alam semesta).

Banten Pejati Banten pejati adalah nama Banten atau (upakara), sesajen yang sering dipergunakan sebagai sarana untuk mempermaklumkan tentang kesungguhan hati akan melaksanakan suatu upacara, dipersaksikan ke hadapan Hyang Widhi dan prabhavaNya.
Dalam “Lontar Tegesing Sarwa Banten”, dinyatakan:
“Banten mapiteges pakahyunan, nga; pakahyunane sane jangkep galang”
Artinya:
Banten itu adalah buah pemikiran artinya pemikiran yang lengkap dan bersih.

Bila dihayati secara mendalam, banten merupakan wujud dari pemikiran yang lengkap yang didasari dengan hati yang tulus dan suci. Mewujudkan banten yang akan dapat disaksikan berwujud indah, rapi, meriah dan unik mengandung simbol, diawali dari pemikiran yang bersih, tulus dan suci. Bentuk banten itu mempunyai makna dan nilai yang tinggi mengandung simbolis filosofis yang mendalam. Banten itu kemudian dipakai untuk menyampaikan rasa cinta, bhakti dan kasih.

Pejati berasal bahasa Bali, dari kata “jati” mendapat awalan “pa”. Jati berarti sungguh-sungguh, benar-benar. Banten pejati adalah sekelompok banten yang dipakai sarana untuk menyatakan rasa kesungguhan hati kehadapan Hyang Widhi dan manifestasiNya, akan melaksanakan suatu upacara dan mohon dipersaksikan, dengan tujuan agar mendapatkan keselamatan. Banten pejati merupakan banten pokok yang senantiasa dipergunakan dalam Pañca Yajña.

Adapun unsur-unsur banten pejati, yaitu:
  1. Daksina
  2. Banten Peras,
  3. Banten Ajuman/Soda
  4. Ketupat Kelanan
  5. Penyeneng/Tehenan/Pabuat
  6. Pesucian Pesucian
  7. Segehan alit

Sarana yang Lain
  • Daun/Plawa; lambang kesejukan.
  • Bunga; lambang cetusan perasaan
  • Bija; lambang benih-benih kesucian.
  • Air; lambang pawitra, amertha
  • Api; lambang saksi dan pendetanya Yajna.
Ketupat Kelanan Unsur-unsur yang membentuk ketupat kelanan:
Alasnya tamas/taledan atau ceper, kemudian diisi buah, pisang dan kue secukupnya, enam buah ketupat, rerasmen/lauk pauk + 1 butir telor mateng dialasi tri kona/ tangkih/celemik, sampyan palus/petangas, canang sari. Ketupat Kelanan adalah lambang dari Sad Ripu yang telah dapat dikendalikan atau teruntai oleh rohani sehingga kebajikan senantiasa meliputi kehidupan manusia. Dengan terkendalinya Sad Ripu maka keseimbangan hidup akan meyelimuti manusia.

Siapa yang menerima Banten pejati ?
Banten Pejati dihaturkan kepada Sanghyang Catur Loka Phala, yaitu
  • Peras kepada Sanghyang Isvara
  • Daksina kepada Sanghyang Brahma
  • Ketupat kelanan kepada Sanghyang Visnu
  • Ajuman kepada Sanghyang Mahadeva

Penjelasan Bahan Banten Pejati Menurut Lontar Tegesing Sarwa Banten;
Mengenai rerasmen: “ Kacang, nga; ngamedalang pengrasa tunggal, komak, nga; sane kakalih sampun masikian”. Artinya: Kacang-kacangan menyebabkan perasaan itu menjadi menyatu, kacang komak yang berbelah dua itu sudah menyatu. 
“ Ulam, nga; iwak nga; hebe nga; rawos sane becik rinengo”. Artinya: Ulam atau ikan yang dipakai sarana rerasmen itu sebagai lambang bicara yang baik untuk didengarkan.
Mengenai buah-buahan; “ Sarwa wija, nga; sakalwiring gawe, nga; sana tatiga ngamedalang pangrasa hayu, ngalangin ring kahuripan”. Artinya: Segala jenis buah-buahan merupakan hasil segala perbuatan, yaiyu perbuatan yang tiga macam itu (Tri Kaya Parisudha), menyebabkan perasaan menjadi baik dan dapat memberikan penerangan pada kehidupan.
Mengenai Kue/Jajan: “ Gina, nga; wruh, uli abang putih, nga; lyang apadang, nga; patut ning rama rena. Dodol, nga; pangan, pangening citta satya, Wajik, nga; rasaning sastra, Bantal, nga; phalaning hana nora, satuh, nga; tempani, tiru-tiruan”. Artinya; Gina adalah lambang mengetahui, Uli merah dan Uli putih adalah lambang kegembiraan yang terang, bhakti terhadap guru rupaka/ ayah-ibu, Dodol adalah lambang pikiran menjadi setia, wajik adalah lambang kesenangan mempelajari sastra, Bantal adalah lambang dari hasil yang sungguh-sungguh dan tidak, dan Satuh adalah lambang patut yang ditirukan.
Mengenai bahan porosan: “ Sedah who, nga; hiking mangde hita wasana, ngaraning matut halyus hasanak, makadang mitra, kasih kumasih”. Artinya: Sirih dan pinang itu lambang dari yang membuatnya kesejahteraan/kerahayuan, berawal dari dasar pemikirannya yang baik, cocok dengan keadaanny, bersaudara dalam keluarga, bertetangga dan berkawan

Demikian kupasan banten Pejati baik (upakara) maupun kajian filosofisnya, sehingga dengan pemahaman ini dapat menumbuhkan kesadaran, keyakinan, dan kemantapan umat Hindu dalam membuat dan menghaturkan Banten Pejati dan melaksanakan ajaran agama Hindu yang penuh dengan simbol-simbol, sehingga dapat mengikis dogma “Anak Mula Keto”, di masa yang akan datang.

berbagai sumber hery-purnayasa.blogspot.com

Senin, 02 April 2012

Filosofi Selonding Dalam Tatwa Hindu

      Filosofi Selonding Dalam Tatwa Hindu

      Selonding merupakan seni musik tradisional yang diperkirakan hidup sejak zaman Bali Kuno, di mana imperium kerajaan Majapahit belum masuk ke tanah Bali. Hanya, selonding sebagai seni tradisi manusia Bali Kuno tidak mendapat banyak perhatian dari kekuasaan raja-raja utusan Majapahit. Kesenian yang dikembangkan di Bali ketika itu hanyalah kesenian kraton yang dibawa seniman-seniman tanah Jawa. Akibatnya selonding terabaikan bahkan nyaris mengalami kepunahan. Sebagai khazanah peradaban manusia Bali Kuno, kajian sejarah terhadap selonding perlu kembali dilakukan untuk menghidupkan kembali kesenian yang memiliki kekuatan membawa ketenangan ini.Gamelan Selonding yang terbuat dari besi ini berlaras pelog tujuh nada ini tergolong barungan alit yang langka dan sangat disakralkan oleh masyarakat desa Tenganan Pagringsingan dan Bongaya (kabupaten karangasem).Gamelan ini dimainkan untuk mengiringi berbagai upacara adat di Bali Aga yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat dan untuk mengiringi tari Abuang,Perang Pandan (Makare-karean) dan lain-lain. Gambelan Selonding adalah merupakan peninggalan dari kegiatan berkesenian nenek moyang kita di masa silam.
Gambelan ini berfungsi menyajikan tabuh-tabuh petegak atau tanpa disertai tari-tarian, baik dalam kaitannya dengan pelaksanaan upacara Agama serta kepentingan-kepentingan lainnya. Namun perlu diketahui hanya dalam upacara Agama pada hari raya-hari raya tertentu saja Gamelan Slonding ini ditabuh atau dibunyikan, Gambelan Selonding merupakan salah satu gamelan yang di sakralkan oleh masyarakat desa Tenganan pangringsingan, Di kalangan masyarakat Tenganan Pagringsingan gamelan Selonding diberi nama Bhatara Bagus Selonding.
Sejarah munculnya Selonding dikaitkan dengan sebuah mitologi yang menyebutkan bahwa pada zaman dulu orang-orang Tenganan mendengar suara gemuruh dari angkasa yang datang secara bergelombang. Pada gelombang pertama suara itu turun di Bongaya (sebelah timur laut Tenganan) dan pada gelombang kedua suara itu turun didaerah Tenganan Pagringsingan. Setelah hilangnya suara itu diketemukan gamelan Selonding (yang berjumlah tiga bilah). Bilah-bilah itu kemudian dikembangkan sehingga menjadi gamelan Selondin seperti sekarang. Gambelan Selonding memang masih dapat bertahan dari terpaan gelombang peradaban manusia dalam rentang waktu yang cukup lama, dan ini hanya dimungkinkan oleh adanya suatu vitalitas nilai universal yang terkandung di dalamnya dan terjalin erat dengan masyarakat pendukungnya.
Barungan gamelan selonding terdiri dari delapan buah instrumen antara lain dua buah gangsa,empat buah oncangan dan dua buah penerang. Kalau dilihat bentuk keseluruhannya hampir semua sama yaitu berbentuk trapesium.
Adapun masing-masing pelawah selonding mempunyai ukuran sebagai berikut:
1.Instrumen gangsa wadon.
Panjang bagian atas : 76 cm
Panjang bagian bawah:69 cm
Lebar : 15,5 cm
Tinggi : 25 cm
2.Instrumen gangsa lanang
Panjang bagian atas: 76 cm
Panjang bagian bawah: 67 cm
Lebar: 14 cm
Tinggi: 25 cm
3.Instrumen oncangan lanang I
Panjang bagian atas: 41 cm
Panjang bagian bawah: 36 cm
Lebar: 15 cm
Tinggi: 20 cm
4,Instrumen oncangan wadon I
Panjang bagian atas: 43,5 cm
Panjang bagian bawah: 33,5 cm
Lebar: 18,5 cm
5.Instrumen oncangan wadon II
Panjang bagian atas: 57 cm
Panjang bagian bawah: 43 cm
Lebar: 18,5 cm
Tinggi: 20 cm
6.Instrumen oncangan lanang II
Panjang bagian atas: 43,5 cm
Panjang bagian bawah: 41 cm
Lebar: 16,5 cm
Tinggi: 20 cm
7.Instrumen penerang lanang
Panjang bagian atas: 61,5 cm
Panjang bagian bawah: 55 cm
Lebar: 16,5 cm
Tinggi: 21 cm
8.Instrumen penerag wadon
Panajng bagian atas: 61,5 cm
Panjang bagian bawah: 54 cm
Lebar: 16,5 cm
Tinggi: 21 cm
Sesuai dengan struktur dari lagu-lagu selonding bahwa tiap-tiap inbstrumen mempunyai tugas yang berbeda-beda dalam barungannya. Adapun tugas-tugas itu ialah seperti berikut:
  • Gangsa lanang, jumlah bilahnya delapan buah bertugas mengendalikan melodi lagu. Urutan nadanya: dong – dang – deng – dung – dang – dong – ding – dong .
  • Gangsa wadon, jumlah bilahnya delapan buah, bertugas mengendalikan melodi lagu. Urutan nadanya : ding – dong – dang – deng – dung – dang – dong – ding.
  • Oncangan lanang I, jumlah bilahnya empat buah, bertugas menjalin kotekan/ cecandetan. Urutan nadanya : dung – dang – dong – ding .
  • Oncangan lanang II, jumlah bilahnya empat , bertugas menjalin kotekan / cecandetan. Urutan nadanya : ding – dong – dang – deng
  • Oncangan wadon I, jumlah bilahnya empat buah , bertugas menjalin kotekan/cecandetan. Urutan nadanya : ding – dong – dang – deng .
  • Oncangan wadon II, jumlah bilahnya empat buah , betugas membuat jalinan kotekan/cecandetan. Urutan nadanya : dung – dang – dong – ding.
  • Penerag lanang, jumlahnya empat buah, bertugas memperjelas tekanan lagu. Urutan nadanya: dung – dong – ding.
  • Penerag wadon, julah bilahnya empat buah, bertugas memperjelas tekanan lagu. Urutan nadanya : ding – dong – dang – deng .
Adapun gending selonding yang sering di mainkan yaitu:
  • Ø Sekar gadung
  • Ø Nyangnyangan
  • Ø Rejang gucek
  • Ø Rejang ileh dll


Sumber : ni ketut suryatini.

Gong Suling bersifat Melodi Unisono

GONG SULING
    Gong Suling pada dasarnya merupakan pengembangan dari Gong Kebyar, teknik tabuh yang digunakan hampir semuanya berasal dari Gong kebyar, hanya saja pembawa melodinya tidak lagi gangsa yang terbuat dari krawang melainkan sejumlah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda. Gong Suling diperkuat dengan melodi bersifat unisono oleh ricikan rebab dengan memiliki dua utas dawai yang disebut wadon dan lanang. Terkait dengan fungsi suling dalam seni karawitan kebyar, hingga saat belum diketahui secara pasti kapan instrumen suling masuk sebagai bagian barungan gamelan tersebut. Munculnya gamelan gong kebyar sebagai salah satu bentuk ensambel baru dalam seni karawitan Bali pada abad XIX, tidak dijumpai adanya penggunaan suling dalam komposisi-komposisi kekebyaran yang diciptakan. Penyajian komposisi ”kebyar” yang dinamis, menghentak-hentak serta pola-pola melodi yang ritmis tidak memungkinkan bagi suling untuk dimainkan di dalamnya. kesenian ini adalah salah satu kesenian tua yang ada di kabupaten Jembrana. kesenian ini hanya ditampilkan pada saat ada upacara keagamaan saja. Namun dengan perubahan jaman, kesenian ini berubah menjadi sebuah seni umum yang dipertontonkan.

Sajian Gong Suling didominasi oleh suling. Diawali dengan ber­jajarnya para pemain suling dengan pemain Rincik, klenang dan klenyir di dalam sajiannya. Para pemain saling mengisi dalam sajian yang secara tidak langsung mengambil pola dari gong kebyar tersebut. Terjadinya per­kembangan fungsi suling tersebut merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik dimana suling yang pada awalnya memiliki fungsi sekunder yaitu instrumen pendukung, berkembang menjadi instrumen primer yaitu instrumen utama.

Gamelan Gong Suling adalah barungan gamelan yang didominir oleh alat-alat tiup suling bambu yang didukung oleh instrumen-instrumen lainnya. Gamelan ini berlaraskan pelog lima nada.

Gong Suling pada hakekatnya merupakan pengembangan dari Gong Kebyar, tabuh – tabuh yang dibawakan hampir semuanya berasal dari Gong Kakebyaran, hanya saja pembawa melodinya tidak lagi gangsa yang terbuat dari krawang melainkan sejumlah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda.

Salah Satu instrumen alam Gong Suling adalah terdapatnya suling bambu yang besar ukurannya. Panjangnya ada sekitar 35 inci dan berdiameter 1,7 inci. Wilayah nadanya lebih sedikit dari dua oktaf dan bermula pada nada B, di bawah nada C pusat. Ini adalah jenis suling vertikal dengan tiup ujung dan merupakan suling bass. Suling tersebut pada bagian bawah jika sedang dimainkan dalam kedudukan vertikal maka akan terbuka. Pada bagian bawah diraut atau diiris sedikit dari buku ruasnya. Lubang-lubang jari yang dinamakan song, terdapat pada bagian atas dari suling dan jumlahnya diselaraskan dengan tangga nada yang diperlukan. Ukuran suling pada kesenian Gong Suling yang panjang tersebut, mengharuskan pemainnya merentangkan tangannya dalam memainkan atau meniupnya dan ujungnya yang terbuka harus ditopangkan ke tanah.

Instrumen-instrumen yang digunakan dalam Gamelan Gong Suling ialah:

1. 2 (dua) buah kendang

2. 1 (satu) buah kajar

3. 1 (satu) buah kemong

4. 1 (satu) buah ceng-ceng kecek

5. 1 (satu) buah gong pulu

6. 1 (satu) buah kempur

7. 2 (dua) buah suling berukuran kecil

8. 4 (empat) buah suling berukuran sedang

9. 2 (dua) buah suling berukuran besar.
Lagu yang dimainkan dalam Gamelan gong Suling terdiri dari:

Gending petegak

Gending petegak yang dimaksud ialah gending-gending yang disajikan secara instrumental. Garis yang tegas untuk menyatakan cirri-ciri ini memang belum mengikat dalam hubungan praktik karawitan dalam masyarakat luas dewasa ini. Pengaruh kreasi local dimana instrument yang bersangkutan hidup sangat sering mempengaruhi fungsi atau tugas-tugas dari sebuah ansambel/barungan gamelan. Gending-gending petegak ini disajikan saat-saat diadakannya upacara adat-keagamaan. Sering juga karawita tari disajikan sebagai gending-gending petegak.

Penyajian gending-gending petegak seperti disinggung diatas, bentuknya bentuknya termasuk jenis-jenis tabuh. Ada bagian-bagian tertentu cara memainkannya diulang-ulang dan bagian penghubung yang berfungsi sebagai perantara dari bagia-bagian yang dihubungkan. Bagian yang harus diulang tidak diharuskan dengan satu perhitungan pasti, tetapi tergantung berapa kali pemain ingin mengulang bagian tertentu itu, kemudian beralih dengan kode-kode tertentu dari satu atau lebih alat yang berfungsi mengendalikan irama (biasanya instrument kendang) dan yang mengendalikan melodi (biasanya instrument terompong) atau kalau tidak memakai instrument terompong biasanya yang mengendalikan melodi adalah instrument gangsa giing. Alat pengendali irama dengan pengendali melodi bekerjasama untuk memimpin tempo, dinamika, dan tujuan penyajian pada waktu lagu itu beralih. Demikian juga kerjasama antara kedua tugas alat pengendali irama dan pengendali melodi selalu dibutuhkan dalam menyelesaikan lagu.

Adapun tabuh petegak yang dimainkan dalam barungan Gamelan Gong Suling diantaranya:

1. Sinom ladrang

2. Lengker

3. Selisir.

4. Sekar gadung

5. Bapang gede, dll

Gending untuk mengiringi tari

Sistim penyajian gending-gending jenis ini disesuaikan dengan kepentingan penyajian tarian yang diiringi. Jumlah dan jenis gending-gending ini sangat banyak, sama banyak dengan jumlah dan jenis tari-tarian yang ada. Hampir semua jenis barungan gamelan Bali dapat dipakai untuk mengiringi tari-tarian, kecuali barungan gamelan Gambang belum popular untuk kepentingan musik iringan tari. Dalam hubungan dengan gending-gending iringan tari, maka gending yang termasuk jenis gending pengilak memegang posisi yang menonjol. Sering juga beberapa jenis gending untuk satu iringan tari, meskipun dimainkan hanya dengan satu barungan gamelan saja.

Gamelan angklung

Gambelan angklung

Gambelan angklung adalah gambelan khas bali yang sering digunakan dalam prosesi/upacara kematian. Gambelan angklung menggunakan laras selendro dan tergolong barungan madya yang di bentuk oleh instrument berbilah dan berpencon dari krawang, kadang-kadang ditambah dengan angklung kocok (yang ukuran keci).
Di bali selatan gambelan ini hanya menggunakan 4(empat) nada sedangkan di bali utara menggunakan 5(lima) nada. Berdasarkan konteks penggunaan gambelan ini serta materi tabuh  yang dibawakan angklung dapat dibedakan menjadi :
Angklung klasik   :  Di mainkan untuk mengiringi upacara (tanpa tari-tarian)
Angklung kebyar  : Di mainkan untuk mengiringi pegelaran tari maupun drama
Satu barung gambelan angklung bias berperan sebagai keduanya, karena sering kali menggunakan penabuh yang sama. Di kalangan masyarakat yang luas gambelan ini di kenal sebagai pengiring upacara  Pitra Yadnya(ngaben). Di sekitaran Denpasar dan beberapa tempat lainnya, penguburan mayat di iringi dengan gambelan angklung yang menggantikan fungsi gambelan gong gede yang di pakai untuk mengiringi upacara Dewa Yadya (odalan) atau juga upacara lainnya.
instrument gambelan angklung terdiri dari :                                                                                                                             * 6-8 pasang alat yang terdiri dari sepasang jegogan, jublag, dan selebihnya pemade dan kantilan
* 3-4 pencon, reong angklung kebyar menggunakan 12 pencon
* 2 buah kendang kecil klasik dan 2 buah kendang besar jika memainkan angklung kebyar
* 1buah tawa-tawa
* 1 buah kempur kecuali angklung kebyar menggunakan gong
Gangsa angklung adalah suatu instrument yang mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari (neng,ndung,ndang, nding) dengan gaya nada selendro. Salah satu gangsa angklung biasanya bisa langsung berfungsi sebagai pengugal atau pemimpin dalam barungan angklung itu. Instrument gangsa ini biasanya menggunakan alat pukul panggul atau juga panggul gender. Cara memainkannya adalah satu nada di pukul kemudian d tutup sesuai dengan irama yang kita inginkan.
Kantialan angklung adalah instrument yang mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari nada (ndeng, ndung,ndang, nding)tetapi dengan nada lebih tinggi dengan gaya selendro. Kantilan ini berfungsi sebagai pemanis dalam permainan atau gending angklung tersebut. Instrument ini juga menggunakan alat pukul panggul atau juga menggunakan panggul gender
Jublag angklung adalah instrument yang juga mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari nada(ndeng,ndung,ndang,nding) tetapi nadanya lebih rendah dengan gaya selendro. Jublag ini berfungsi sebagai penandan dalam gending angklung itu sendiri. Insterument ini menggunakan alat pukul panggul tetapi ukurannya lebih besar dan d bawah panggul itu menggunakan karet agar suara jublag terdengar lebih merdu
Reong angklung adalah instrument yang berpencon dengan gaya nada selendro dan dimainkan oleh 4(empat) orang pemain atau penabuh. Instrument ini menggunakan alat pukul panggul tetapi panggul itu di lilit dengan benang dengan tujuan agar suara reong tersebut bisa lebih merdu
Kendang angklung, biasanya kalau untuk mengiringi upacara kematian kendang angklung yang digunakan adalah kendang yang berukuran kecil karena lagu yang dimainkan adalah lagu ysng bersifat sedih tetapi dalam angklung kebyar biasanya menggunakan kendang yang ukurannya lebih besar karena bentuk lagunya lebih bersemangat dan juga berbentuk kekebyaran. Instrument ini dimainkan oleh 2(dua) orang penabuh. Kalau menggunakan kendang berukuran kecil cara memainkannya hanya memukul bagian samping kanan yang diameternya lebih besar atau mukaknya saja, tetapi kalau menggunakan kendang besar cara memainkannya menggunakan 2(dua) tangan dengan memukul bagian samping kendang dengan motif pukulan seperti gegilak, dll
Tawa-tawa angklung merupakan alat sebagai tempo yang membawa lagu itu cepat atau pelan.
Kempur angklung merupakan suatu alat untuk menunjukkan lagu itu sudah habis, tetapi kalau angklung kebyar biasanya menggunakan gong, karena jenis lagunya berbentuk kekebyaran. Ada juga instrument kecek dan suling yang menjadi bagian dari barungan gambelan angklung tersebut.

Gamelan Gambang Dalam Upacara Pitra Yadnya


Gamelan GambangSecara epistemologis, pengertian Pitra Yadnya muncul dari arti kata Pitra dan Yadnya. Dari beberapa sumber literatur, diketemukan berbagai pemaknaan terhadap kata “pitra”. Singgih Wikarma (2002) dalam bukunya Ngaben, menguraikan bahwa Pitra berasal dari kata Pitr yang artinya leluhur, yadnya berasal dari kata Yaj berarti berkorban. Dari arti kata di atas, Pitra Yadnya berarti bentuk pengorbanan suci yang dilaksanakan secara tulus ikhlas kepada para leluhur. Di lain pihak Sudarsana (2002:9) menyebutkan bahwa “pitra” adalah sama pengertiannya dengan arwah dan “pitra” berasal dari kata “pitri” yang artinya unsur-unsur kekuatan Panca Maha Bhuta yang membentuk stula sarira (jasad).
Terdapatnya perbedaan pengertian di atas, hal ini karena menurut sumber acuan yang dipergunakan oleh masing-masing penulisnya. Namun demikian esensi dari upacara ini masih tetap sama dimana pada intinya pelaksanaan upacara pitra yadnya merupakan salah satu bentuk pengorbanan suci (yadnya) yang diperuntukkan bagi roh, arwah para leluhur atau orang-orang yang telah meninggal dunia. Dengan kata lain, upacara ini merupakan upaya untuk mempercepat proses pengembalian/penyucian unsur-unsur Panca Maha Bhuta agar kembali ke sumbernya.
Adapun bentuk upacara pitra yadnya memiliki runtutan dari upacara orang meninggal hingga distanakan atau tempatkan pada tempat suci keluarga (sanggah). Pada saat baru meninggal, kekuatan Panca Maha Bhuta (pitra/roh) orang yang meninggal disebut dengan “petra/pitri/pitra”, setelah dilaksanakan penyucian tahap pertama melalui upacara atiwa-tiwa (ngringkes), maka sebutan pitra meningkat menjadi “pitara” (pitarah). Selanjutnya setelah dilakukan penyucian melalui upacara ngaben, disertakan dengan pengaskaran maka kesuciannya akan meningkat sehingga mendapat sebutan Dewa Pitara. Penyucian Dewa Pitara melalui upacara pemukuran akan meningkatkan lagi Dewa Pitara menjadi Hyang Pitara. Setelah berstatus Hyang Pitara, upacara penyuciannyapun terus dilaksanakan melalui upacara Nilapati yaitu ngunggahang Bethara Hyang di Kemulan, maka Hyang Pitara telah kembali ke sumbernya yaitu ke “Sang Hyang Prakerthi” dan pada saat inilah mendapat sebutan Bethara Hyang (Sudarsana, 2002:12).
Dapat disimpulkan bahwa, upacara Pitra Yadnya merupakan upacara penyucian yang diperuntukkan bagi roh orang yang telah meninggal yang dilaksanakan melalui rangkaian upacara pengringkesan, pengabenan, memukur hingga nilapati atau ngelinggihang. Berkenaan dengan rangkaian upacara tersebut, salah satu aspek yang senantiasa mengiringi pelaksanaannya adalah adanya gamelan yang berfungsi sebagai musik pengiringnya.
Dalam pelaksanaannya di masyarakat Kota Denpasar, apabila dirinci dari awal pelaksanaan upacara pitra yadnya hingga rangkaiannya yang terakhir yaitu Nilapati digunakan berbagai jenis gamelan sebagai musik pengiringnya. Kebiasaan masyarakat di Kota Denpasar, terkait dengan rangakaian upacara tersebut dipergunakan gamelan Balaganjur, Gender Wayang, Angklung, Gong Kebyar, Gambang, Gong Luang (Saron).
Terkait dengan penggunaan gamelan Gambang dalam upacara pitra yadnya, pada salah satu lontar yang berkaitan dengan pelaksanaan upacara Sawa Prateka disebutkan: Terjemahan secara bebas adalah sebagai berikut: Kalau mengadakan sawa prateka, pelaksanaannya berbadan mayat, memakai bade (wadah), menurut aturan keturunan (triwangsa), disertai banten taben, damar kurung, memakai petulangan (tempat pembakaran) lengkap sesuai dengan keperluannnya. Sorganya terletak di selatan, namanya budalaya, kawahnya geni murub (api berkobar), penghalangnya bernama dorokala dan kingkara. Bidadarinya Gagar mayang, Pendetanya Ramaperasu, Dewanya Bhatara Brahma, keseniannya adalah Gambang. Air Sucinya adalah kamandalu akhirnya dibakar di kuburan, abunya dihanyutkan di laut atau boleh juga ke sungai.
Dari uraian yang terdapat dalam lontar tersebut, jelas bahwa gamelan Gambang merupakan salah satu perangkat alat musik tradisional yang sangat diperlukan pada pelaksanaan upacara pitra yadnya di samping beberapa jenis gamelan lainnya. Hal ini juga terungkap dalam prasasti dan Purana Tatwa Pura Kelaci disebutkan bahwa gending Kebo Lelatik, Misa Gagang merupakan gending gambang yang dapat menghantarkan Sang Hyang Atma (roh) menuju sorga. Sebagaimana terdapat dalam purana tersebut (halaman 39), dalam rangka pelaksanaan upacara pelebonan (ngaben/pembakaran mayat) Sang Prabu ring Gelgel diuraikan sebagai berikut terjemahan bebas:
“… kalau tabuh gender menyesuaikan dengan jalur keliling bade (usungan mayat), wayang beber sudah diletakkan berjajar di tempat usungan mayat, suara kendang bergemuruh, angklung, kidung upacara sudah berbaris sesuai dengan urutannya. Di luar tempat persemayaman mayat Gong Gede dimainkan, Gong Saron di halaman puri. Gambang juga sudah dimainkan oleh I Gusti Ngurah Sentong, lagu Misa Gagang. Kebo Lelatik, Gagak Ora dan yang lainnya menyajikan jalinan nada yang sangat menyenangkan karena gending tersebut memang penghantar Sanghyang Atma (roh)…”
Dari uraian tersebut jelas bahwa gamelan Gambang merupakan salah satu gamelan yang memiliki nilai sakral dalam upacara pitra yadnya. Keberadaannya memiliki makna religius yang sangat penting yang dipercaya dapat menghantarkan roh orang yang meninggal menuju sorga. Namun demikian, walaupun disebutkan bahwa gamelan Gambang merupakan gamelan penghantar roh, dalam pelaksanaanya tidak semua upacara pitra yadnya yang dapat mempergunakan gamelan gambang. Hal ini sangat tergantung dari tinggi-rendahnya tingkatan upacara yang dilaksanakan, sesuai dengan situasi, kondisi, derajat serta kemampuan financial penyelenggara upacara.
Mengenai tingkatan upacara pengebenan, dari berbagai sumber sastra yang berhasil dikumpulkan oleh Sudarsana (2008:77-78) disebutkan ada empat tingkatan yaitu mewangun, prenawa, swasta dan ngerti parwa. Sesuai dengan situasi dan kondisi pelaksanaannya, masing-masing dari tingkatan tersebut dibagi lagi sehingga terdapat 10 bentuk pengabenan.
Upacara ngaben di atas dapat dilaksanakan dalam tingkatan nista, madya dan utama sesuai dengan kemampuan dalam memenuhi berbagai persyaratannya. Pengabenan mewangun merupakan tingkatan pengabenan tertinggi dimana pelaksanaan upacara pengabenannya mempergunakan kuantitas upacara utama dan memakai atribut-atribut secara lengkap menurut ketentuan sastra agama Hindu (Sudarsana, 2008:78). Tingkatan pengabenan ini biasanya dilaksanakan bagi orang-orang yang memiliki kedudukan, terhormat, pengaruh yang luas di masyarakat, seperti raja dan golongan ksatria lainnya, pendeta, pemangku desa. Pengabenan pranawa merupakan tingkatan upacara pengabenan yang kuantitasnya lebih kecil dari mewangun namun memiliki kualitas yang sama dan tergantung dari pelaksanannya. Berbagai kalangan (kedudukan dan kasta) dapat melaksanakan upacara pengabenan dalam tingkatan ini sesuai dengan kemampuan dalam melaksanakannya. Sedangkan tingkatan upacara yang paling sederhana adalah swastha dan ngerti parwa.
Keterkaitan antara pemanfaatan gamelan Gambang dalam upacara ngaben, secara rinci telah disebutkan bahwa penggunaan gamelan ini dilakukan pada tingkatan tertinggi yang disebut dengan ngaben mewangun. Disajikannya Gambang dalam tingkatan pengabenan ini lebih disebabkan adanya keyakinan bahwa gending-gending yang disajikan seperti gending Kebo Lelatik, Misa Gagang, Gagak Ora dan yang lainnya dapat menghantarkan roh orang yang meninggal menuju sorga. Sebagaimana diilustrasikan dalam pengabenan Ida Betara Dalem Gelgel selaku penguasa Bali pada masa yang lampau disebut beberapa perlengkapan upacara seperti bade tumpang 11 dengan berbagai kelengkapannya termasuk wayang beber, nagabanda, lembu, serta berbagai jenis kesenian seperti gong saron, gambang, gong metrompong (gong gede), angklung, baris poleng (ketekok jago) dan berbagai perlengkapan upacara lainnya. Keseluruhan perlengkapan tersebut diyakini untuk mempermudah pencapaian roh ke alam sorga.

Sniffing dan Pengamanan Sistem Informasi

Hack Password Menggunakan Wireshark

Tutorial Metasploit

Tutorial Foot Printing

Minggu, 01 April 2012

Kanda Pat Bhuta


Meditasi Kanda Pat Butha

Kanda Pat Bhuta terdiri dari 27 bentuk meditasi , dari 27 bentuk meditasi tersebut kebanyakan bersifat negatif atau merusak, sementara 3 ( tiga ) yang baik yaitu (Meditasi Kanda Pat Somyaning Butha , Meditasi Kanda Pat Penundung Butha dan Meditasi Kanda Pat Pemrelina Butha) , ketiga Meditasi Kanda Pat Bhuta yang baik ini harus di kuasai agar tidak bisa ganggu oleh mereka yang menguasai Kanda Pat Bhuta yang bersifat negatif. Menurut tutur yang terdapat dalam pustaka suci bahwasanya di dalam raga manusia terdapat unsur kekuatan Dewa dan unsur kekuatan Butha dan apa yang terdapat di Buana Agung ( alam Semesta ), juga terdapat dalam Buana Alit ( diri kita ), sebaliknya juga begitu, salah satu diantara tersebut adalah tentang Butha, bahwasanya didalam diri manusia terdapat Butha begitu juga di Buana Agung atau Alam Semesta yang bahkan jumlah butha di Buana Agung jemlahnya ribuan jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang ada di dalam diri manusia atau dalam buana alit. sedikit pengetahuan Bhuta yang ada dalam diri manusia ( Buana Alit ) dan Butha yang ada di alam semesta ( Bhuana Agung ), di jelaskan dalam Pustaka Kanda Pat Bhuta sebagai berikut : pada saat manusia berada didalam kandungan ( duk manusa kantun ring telengin cecupu manik ), kita memiliki empat saudara sejati ” Catur Sanak “, yang bernama I Anta – I Preta – I Kala – I Dengen . selanjutnya ketika manusa lahir : I Dengen menjadi Yeh Nyom selanjutnya menjadi I Bhuta Petak , selanjutnya menjadi I Bhuta Janggitan selanjutnya menjadi I Bhuta Anggapati, Sedangkan I Kala menjadi Getih selanjutnya menjadi I Bhuta Abang selanjutnya menjadi I Bhuta Karuna selanjutnya menjadi I Bhuta Merajapati , sedangkan I Preta menjadi Lamas selanjutnya menjadi I Bhuta Ireng selanjutnya menjadi I Bhuta Taruna selanjutnya menjadi I Bhuta Banaspati, sedangkan I Anta menjadi Ari Ari selanjutnya menjadi Bhuta Kuning, selanjutnya menjadi Bhuta Lembukania, selanjutnya menjadi Bhuta Banaspati…… , disamping bhuta yang ada didalam diri manusia ( Bhuana Alit ), juga terdapa Bhuta Kala yang ada di alam semesta ( Bhuana Agung ), malahan jumlahnya jauh lebih banyak dari pada yang ada di Bhuana Alit , Bhuta yang ada di alam semesta jumlahnya ribuan dan di pimpin oleh 108 Butha dan 108 Kala , 108 Bhuta ( diantaranya adalah Bhuta Bucari, Bhuta Ulu Singa, Butha Ulu Gajah, Bhuta Ulu Wresabha , Butha Ulu Sliwah , Bhuta Kalika , Bhuta Basang Basang , dan yang lainnya , sementara 108 Kala ( diantaranya adalah Sang Kala Bucari, Sang Kala Dangastra , Sang Kala Mreka , Sang Kala Sada , .Sang Kala Guna Guna , dan yang lainnya ) , berikut penulis memberikan sekelumit cuplikan Mantram yang terdapat dalam Meditasi tersebut di atas :

‘Mantram Meditasi Somyaning Bhuta’ :

Ong………………..Namo Siwa Ya…………Ong Niat ingsun ngrangsukang Yoga Samadhi Somyaning Bhuta kang Marisomya watek para bhuta kala kabeh, Ong sanak ngulun I Dengen mawak yeh Nyom matemahan Bhuta Petak, matemahan Bhuta Janggitan, matemahan Bhuta Aggapati magenah ring kulit………………………..dst, lah ta sira pada metusaking adnyana mapupul to sira ring uluhati anerus ring kuncit,,,,anerus ring selaning ………………………….dst.

Melalui meditasi Tuntunan Semadhi Kanda Pat yang dinamakan Meditasi Somyaning Butha ini kita di latih memupuk , menumbuhkan , meningkatkan unsur kekuatan Butha yang ada dalam diri manusia kemudian di arahkan untuk sesuatu yang berguna bagi kehidupan yaitu untuk : Menyomyakan Butha ( berdamai dengan Butha ), Menyucikan berbagai pekarangan, abian , tegalan , carik/sawah , Penyucikan perumahan (pomahan)

Sejak jaman dulu para Yogi atau Pertapa menyomyakan Bhuta dengan menggunakan sarana tertentu , ada yang menggunakan sarana “pemusatan pikiran atau samadhi”, bagi kelompok pertapa yang kebanyakan pengikutnya memiliki tingkat pengetahuan atau jnana yang tinggi, sedangkan bagi kelompok pertapa yang kebanyakan pengikutnya memiliki tingkat atau jnana yang masih rendah menggunakan sarana lelaban berupa segehan, caru , dan sebagainya, mulai dari segehan warna putih – kuning kekuatan berdamainya 3 hari, segehan manca warna kekuatan berdamainya 5 hari, dan segehan agung kekuatan berdamainya 15 hari. Caru brumbun kekuatan berdamainya dengan Butha Kala selama 6 bulan, Caru Manca Sato kekuatan berdamainya dengan Butha selama 1 tahun, Caru Manca Sanak kekuatan berdamainya dengan Butha Kala selama 5 tahun 5 bulan , Caru Resi Gana ( sehabis melakukan pecaruan semua ditanam, kekuatan berdama dengan Butha Kala selama 6 tahun, Caru Manca Kelud memiliki kekuatan berdamai dengan Butha Kala selama 8 tahun, Caru Balik Sumpah , memiliki kekuatan berdamai dengan para Butha Kala selama 9 tahun, Caru Tawur Gentuh meiliki kekuatan berdamai dengan para Butha Kala selama 10 tahun, sementara Caru Masepuh Agung kekuatan berdamainya 11 tahun, Caru Panca Wali Krama kekuatan berdamainya 12 tahun 6 bulan, Caru Eka Dasa Rudra kekuatan berdamai dengan Butha Kala 100 tahun, sementara Caru Malinggya Bhumi kekuatan berdamainya 400 tahun, sementara yang dikenal dengan Caru Arebhu Bhumi kekuatan berdamainya dengan para Bhuta Kala selama 1000 tahun. Paiketan Paguron Seruling Dewata termasuk kelompok yang berdamai dengan Bhuta dengan menggunakan sarana Pemusatan Pikiran (Samadhi) karena para pengikutnya kebanyakan tingkat pengetahuan (jnana) tinggi. Sementara kelompok Resi Markandya menggunakan sarana berbagai korban sato karena para pengikutnya kebanyakan para petani dan pekerja yang kurang mampu bersemadhi memusatkan pikiran dan kebiasaan ini telah di warisi oleh masyarakat Bali Dwipa sampai sekarang.

‘Mantram Meditasi Panundung Bhuta’ :

Ong……………….Namo Siwa Ya……………., ong Niat ingsun ngrangsukang yoga Samadhi Penundung Bhuta kang umalah para Bhuta Kala pegawe ala kabeh………………dst, Ong tumurun Betara Rudra lan Betara Kala saking ambara ngelayang masusupan ring angga sariranku, mayoga betara Rudra lan Betara Kala ring sariran ngulun mijil aken geni murub ring siwardwara, ring soca…………………………..dst…………………..

Meditasi Kanda Pat Panundung Bhuta ini mengajarkan pada kita cara untuk mengarahkan kekuatan Bhuta dalam diri kita untuk mengusir para Bhuta yang tidak mau berdamai dan sering mengganggu kita sekeluarga agar pergi dari pekarangan rumah yang kita tempati. Pada saat proses pengusiran para Bhuta akan merasa kesakitan seperti di timpuk batu, atau dilempar dibanting dipukul dengan tongkat dan semuanya menjerit kesakitan pada saat pembacaan mantram ini.

‘Mantram Meditasi Pemrelina Bhuta’ :

Ong……………….Namo Siwa Ya……………., ong Niat ingsun ngrangsukang yoga Samadhi Pemrelina Bhuta kang mralina para Bhuta Kala pegawe ala kabeh luwirnia agringin jadma manusa, ngawe lara, adenda atma, angamet jiwa, amateni amejah jadma manusa………………………ong Bethara Rudra mesusupan ring angga sariran ngulun rumasuk saking siwadrawa anerus ring usus, anerus ring tangan tengen,……………………….ong Bethara Kala masusupan ring sariran ngulun , rumasuk saking siwadwara anerus ring uluhati anerus ring tangan kiwa…………………………………dst……….

Meditasi ini mengajarkan kepada para siswa cara mengarahkan kekuatan Bhuta yang ada pada diri kita untuk membunuh dan menghancurkan para Bhuta yang suka mengganggu manusia yang setelah di usir datang balik atau kembali mengganggu kita sekeluarga agar semuanya mati, musnah terbakar tanpa bekas, jadi abu.

Kanda Pat Dewa


Ajaran ini berkembang khususnya di Bali. Dalam perkembangan Hindu di Bali, aliran Siwa Sidhanta adalah terbesar pengikutnya di awal perkembangan Hindu di Bali. Siwa Sidhanta mengajarkan bahwa Hyang Siwa adalah tujuan tertinggi, beliaulah dianggap sebagai Hyang Widhi dalam tiga perwujudan yaitu Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa. Dalam Tri Murti, beliau adalah Brahma, Wisnu dan Iswara.  Dalam Dewa Nawa Sangga, Siwa ditempatkan di tengah-tengah dalam wujudnya sebagai Batara Hyang Guru, beliau kemudian bermanifestasi ke segala arah mata angin dan menguasai arah mata angin sebagai pengider dalam Bhuwana Agung / alam semesta. Ajaran Kanda Pat Dewa mengajarkan bahwa segala yang ada di bhuwana agung terdapat pula di bhuwana alit, sehingga Dewa -Dewa yang ada di bhuwana agung sesungguhnya ada pula didalam tubuh manusia. Dari sana kemudian Dewa Nawa Sangga dipuja dan diistanakan dalam tubuh, sehingga tubuh manusia akan seperti Dewa. Sesungguhnya bhuwana agung dan bhuwana alit adalah satu, sehingga apapun yang ada di bhuwana agung terdapat juga di bhuwana alit. Oleh karena Hyang Widhi sesungguhnya ada dan beristana di hati manusia. Apabila kita mampu memahami keberadaan Hyang Widhi dalam diri kita maka kita pun mempunyai kesadaran yang sama dengan Hyang Widhi.

Adapun mantra yang diucapkan saat mempelajari Kanda pat Dewa adalah:

  • Om bhatara Iswara, ring purwa prenahira, rupanira putih, kahyangan nira ring papusuh, senjatan nira bajra, merunira tumpang lima, babahanira ring kuping tengen, wetunira ring idep.
  • Om batara Brahma, ring daksina prenahira, rupanira bang, kahyanganira ring ati, senjatanira danda, merunira tumpang siya, babahanira ring mata tengen, wetunira ring panon, lintiran tan salah panon.
  • Om batara Mahadewa, ring pascima prenahira, rupanira kunig, kahyanganira ring ungsilan, senjatanira nagapasa, merunira tumpang pitu, babahanira ring irung tengen, wetunira ring sabda.
  • Om batara Wisnu, ring uttara prenahira, rupanira ireng, kahyanganira ring ampru, senjatanira cakra, merunira tumpang papat, babahanira ring cangkem, weetunira ring pangwangan.
  • Om batara Siwa, ring madya prenahira, rupanira mancawarna, kahyangannira ring tumpuking ati, senjatanira padma, merunira tumpang solas, babahanira ring papusuh, wetunira ring manah, lintiranira tan salah manah.
  • Om Batara Guru, haneng madyaning awyakti prenahira, wetunira ring adnyana, lintiran angadegaken adnyana. Hyang Wisesa wetuning angen-angen ring byantara, babahanira ring uneng-unengan, lintiran angen-angen. Om Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang, amepeki jagat bhuwana kabeh, anilahaken paksane, sakwehing kinaya-upaya, tuju teluh teranjana, desti, pepasangan, sesawangan, rerajahan, tan tumana ring awak sariranku, apan aku sarining Tunjung putih.
Apabila kita mampu angrasukin mantra-mantra diatas, maka kita akan mampu bersikap bijaksana dan mampu memahami sesungguhnya Hyang Guru yang ada di hati kita. Belajar Kanda Pat Dewa, memerlukan kesabaran, ketekunan dan kepasrahan bahwa segala sesuatu yang kita dapat sesungguhnya adalah semua tergantung dari kemurahan dan anugrah Hyang Widhi. Semoga dengan mampu memahami ajaran ini, umat Hindu Khususnya yang ada di Bali semakin dekat dengan kewajiban sebagai manusia, untuk menemukan sejatinya apa yang menjadi tujuan manusia yaitu moksartam jagadhita ya ca iti dharma. Mencapai moksa di jalan kebenaran. 

KANDA PAT SARI



Inilah ajarannya KANDA PAT SARI . Kanda = tutur = petuah = cerita = tetingkah = kesaktian = kesidian = kewisesan. Pat = empat Sari = utama jadi, Kanda Pat Sari berarti empat macam ajaran yang utama tentang ilmu kesaktian, kesidian dan kewisesan.
Beginilah ceritanya : pada waktu kita lahir ke dunia ini, pada saat yg sama lahir pula Sanghyang Panca Mahabutha, yang lahir bersama-sama dengan Sanghyang Tiga Sakti. Beliaulah Sanghyang Tiga Sakti amor ring Buwana Agung, kemudian dipuja oleh semua mahkluk hidup di dunia. Beliau di puja di Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem.
Sedangkan Sanghyang Panca Mahabutha menjadi pepatih di segala penjuru dunia. Sebagai pemelihara dunia. Dan semuanya mahasakti tidak terhingga. Bila di puja, diyakini, dan diresapi, maka Beliau dapat ngrangsuk ke dalam badan. Dapat memberikan jalan menuju kebijaksanaan, kewibawaan, kesaktian, kesidian, kawisesan, dan kemulyaan.
Inilah adanya beliau :
1. Yang paling tua berwujud yeh nyom, yang disebut ANGGAPATI, yg menjadi patih di pura ulun suwi, yg bernama I RATUNGURAH TANGKEB LANGIT, yang diikuti oleh Sang Bhuta Swadnya, Sang Bhuta Swasti, Sang Bhuta Tenggara, Beliau sbg dewanya sawah, gunung, sbg pemelihara dunia dan dipekarangan Beliau berstana di tugu (yg bertempat di barat laut) sbg dewanya segala hewan, bila di dlm badan beliau berstana di Kulit yg disebut Segare Tan Patepi dgn aksaranya “SANG” , berwujud Amerta Sanjiwani, rembesannya keluar dalam bentuk keringat. Faedahnya adalah untuk membasmi segala penderitaan, pada badan termasuk penyakit yang berat maupun penyakit yang ringan. Demikian pula apabila mendapat penderitaan karena melakukan sumpah Cor, dapatlah diampuni.. penjelmaan Beliau adalah berbentuk langit yg cemerlang, menjadi damuh(air gerimis yg jatuh dr langit pada dini hari) demikianlah saktinya I Ratu Ngurah Tangkeb Langit.
Sesaji/ banten aturan kepada Beliau :

Ketipat dampulan matenggek, taluh bokasem, segehan kepelan putih me be bawang jahe.
2. Yang paling wayanan ( yg lahir ke 2 ) berwujud Darah, yang bernama MRAJAPATI, kemudian menjadi patih di pura Sada. Kemudian beliau bergelar I Ratu Wayan Tebeng, diikuti oleh Sang Bhuta Usadi, Sang Bhuta Keli. Beliau sbg Dewatanya hutan, gunung, jalan, pintu keluarnya rumah ( lebuh ), pohon kayu, segala tumbuh-tumbuhan. Dalam badan Beliau berstana di dalam Darah. Sebagai Amerta Kamandalu, rembesannya adalah Bayu. Aksarantya

“BANG”

Yang bernama Tampaking Kuntul Nglayang. Fungsinya adalah untuk menolak segala perbuatan jahat baik skala maupun niskala. Semua dapat di tolaknya. Penjelmaannya menjadi api unggun, gunung, hutan, jalan, pohon besar.
Sesaji/ banten aturan kepada Beliau :

Ketipat galeng dgn telur itik, segehan barak me be bawang jahe.
3.Yang lahir madenan ( lahir no 3 ) berwujud Ari-ari yang bernama BANASPATI, menjadi pepatih di Pura Puseh. Beliau bergelar I Ratu Made Jelawung. Diikuti oleh Sang Bhuta Prajapati, Bhuta Bisrana. Beliau adalah dewatanya tanah tegalan, dewatanya perkebunan, dewatanya penginih-inih, dan segala yg berbuat jahat musnahlah adanya. Termasuk orang yang berbuat jahat di dalam pekarangan rumah, musnah adanya. Di dalam badan Beliau berstana di dalam Daging, dan di semua lubang yg ada di badan. Aksaranya adalah “TANG”

Kemudian disebut Galihing Kangkung. Rembesannya berbentuk rambut. Penjelmaan Beliau berwujud angin kencang, mahluk kecil ( gumatat-gumitit ), menjadi tegalan yg sangat luas, berwujud perkebunan yg pagarnya sangat sempurna, berwujud rumah besar yg bertembok tinggi.
Sesaji/ banten aturan kepada Beliau :

Ketipat gangsa, me be sate gede, segehan kepelan kuning me be bawang jahe.
4.Yang lahir Nyomanan (lahir no 4) berwujud Lamad ( Lamas )

Bernama BANASPATI RAJA, menjadi patih di Pura Dalem. Kemudian bergelar I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan. Di ikuti oleh Sang Bhuta Grabwag, Bhuta Sundung, Bhuta Slusuh, Bhuta Sendra. Beliau sakti tiada tandingannya. Beliau sbg pemelihara dunia. Sbg dewatanya kuburan, dewatanya sungai, jurang , pamgkung, , dewatanya Dete, Tonya, Samar, dewatanya pantai, dewatanya semua jenis burung, dewatanya semua balyan pengiwa dan penengen. Beliau menciptakan kekuatan mantra. Di dalam badan Beliau berstana di Urat. Beliau perwujudan Amerta Maha Tirta. Rembesannya menjadi Maolah. Aksaranya adalah “ANG”

Artinya Isin Buluh Bumbang. Penjelmaannya berwujud lautan, sungai, burung, berwujud manusia spt kita , orang tua yg berkampuh poleng.
Sesaji/banten aturan kepada Beliau :

Ketipat gong me be taluh meguling, sesari 11biji uang kepeng, rokok, segehan kepelan selem me be bawang jahe.
5.Yang lahir ketutan ( no 5 paling akhir )

Bernama BHUTA DENGEN. Menjadi pepatih di Pura Desa. Bergelar I Ratu Ketut Petung. Diikuti oleh Sang Bhuta Ngemban Nginte, Sang Ayu Draning, Beliau sbg Dewatanya Balang Tamak Bale Agung, dewanya Pelangkiran, dewanya Pasar, dewanya Tukang, sangging, undagi, pande, dewanya bale banjar, dan dewanya segala jenis Ikan.di badan Beliau berstana pada Tulang dan Sumsum, perwujudan Amerta Pawitra, rembesannya berwujud Rasa, aksaranya “ ING”

Yang di sebut Lontar Tanpa Tulis. Beliau sbg pemelihara kandungan, pemelihara diri sendiri. Beliau di benarkan membunuh musuh yg jahanam, pada diri kita. Penjelmaan Beliau berwujud Kilat, Bale agung, ikan, manusia laki-laki dan perempuan.
Sesaji/ banten aturan kepada Beliau :

Ketipat leket akelan, me be taluh bajongan, segehan brumbun me be bawang jahe.
Ini supaya di ingat, saktinya Beliau SANGHYANG PANCA MAHABHUTA, bila di kehendaki dan ingin memiliki kesaktian tersebut, wujudkanlah kekuatannya, masukkanlah di dalam badan, supaya menyatu dengan kita, merokok tidak dibenarkan dalam mempelajari Ilmu
MANTRA PEMUJAAN DAN PERMOHONAN

TATA CARA DAN UPACARA
Mantra pemujaan Beliau :
Ong Ang Ang Ong

Ong Ing Ong Ung Ang Ah Ah Tang

Ong Kyah Kyah Ong Shah

Ung Rung Reng Rong Wasat

Ong Ong Mang Wyang Syah
Mantra permohonan kepada Beliau :
Ih I Ratu Ngurah Tangkeb Langit

I Ratu Wayan Tebeng

I RatuMade Jelawung

I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan

I Ratu Ketut Petung

Aja sira lali asanak ring ulun

Apan ulun tan lali astiti bhakti ring sira

Wehan ta ulun panugrahan……… (sakti sidhi ngucap)

………………………………………………………………

Ong winursita rsyamuka

Angamet sarining amerta kusuma ya nama swaha
Jangan di lecehkan, karena mantra ini adalah ciptaan Beliau Bhatara Dalem.dapat dipergunakan sekehendak hati. Tinggal menambahkan kalimat permohonan pd titik-titik tersebut di atas. Mau sakti dalam segala hal perwujudan. Tidak dapat di tundukkan dalam segala kewibawaan. Yang jauh dapat di buat dekat, yg dekat dapat di buat jauh, segala yang ganas menjadi jinak.
Kemudian apabila berkehendak memuja Beliau Sanghyang Panca Mahabhuta supaya segera menyatu dengan diri kita, pada hari Sabtu Kliwon wuku Landep atau Hari Tumpak Landep ( hari piodalan Ida Sanghyang Panca Mahabhuta )
Banten/ upakara/ aturan kpd Beliau :
Banten/sesaji banten ketupat seperti yg telah disebutkan di atas tadi di tambah dengan :

-Rayunan satu pajeg ( be/ikan diolah sampai matang) ikan ayam, babi, itik

Boleh dipakai.

-Suci satu soroh

-Daksina gede satu dengan sesari 41 uang kepeng ( pis bolong )

-Permen/pemanisan satu dulang

-Rantasan secukupnya ( kain warna putih,merah,kuning, dan hitam )

-Segehan agung satu

- Ayam samumulung satu untuk samleh

-Tetabuhan arak-berem.

Dan juga banten pras pejati yg dihaturkan kehadapan Sanghyang Tiga Sakti dan leluhur kita, untuk mohon restu semoga Beliau semua berkenan dan Asung kerta wara nugraha.

Setelah sesajen diatas lengkap, kemudian diikuti dengan mantra2 danditambah dengan ucapan dgn bahasa sendiri sesuai permohonan. Permohonan itu hanya boleh diucapkan satukali saja yaitu kepada IDA IRATU NYOMAN SAKTI PENGADANGAN saja….karena Beliaulah nantinya yg akan memanggil saudara2nya untuk ikut merestui permohonan kita.
Inilah cara-caranya :
Pertama-tama banten pras pejati dihaturkan dihadapan pelinggih rong tiga katur ring Ida Sanghyang Tiga Sakti atau ring padma, jg banten pras pejati di haturkan ke leluhur minta doa restu. Selanjutnya sembahyang. Kemudian ucapkan mantra spt di bawah ini………….
Ih, I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, metu kita saking jagat wetan, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken:

Ketipat dampulan matenggek, maulam taluh bokasem, segehan kepelan putih maulam bawang jahe.
Ih, Iratu Wayan Tebeng, metu kita saking jagat kidul, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken: Ketipat galeng maulam taluh bebek, segehan kepelan barak maulam bawang jahe.
Ih, I Ratu Made Jelawung, metu kita saking jagat kulon, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken: Ketipat gangsa, maulam sate gede, segehan kepelan kuning maulam bawang jahe.
Ih, I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, metu kita saking jagat lor, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken:

Ketipat gong maulam taluh meguling, sesari 11biji uang kepeng, rokok, segehan kepelan selem maulam bawang jahe.
Ih, I Ratu Ketut Petung, metu kita saking jagat madya, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken: Ketipat leket akelan, maulam taluh bajongan, segehan kepelan brumbun maulam bawang jahe.
Tiosan saking punika wenten malih aturan manusanta mekadi suci asoroh, daksina gede, rayuna lan pemanisan, rantasan, segehan agung muang penyambleh ayam samumulung, metetabuhan arak berem.
Ajasira lali asanak ring ulun, Apan ulun tan lali astiti bakti ring sira, Wehan ta ulun panugrahan………………………………………………….. ( titik2 disi dgn permohonan menurut bhs nasing2 ) , Ong Winursita resyamuka angamet sarining amerta kusuma ya nama swaha.
Mantra diatas di ucapkan ber ulang- ulang secara pelan dan lirih , penuh dgn konsentrasi, sambil menghayati dan meresapi setiap katanya. Bila diterima kita akan merasakan suatu sensasi spiritual. Setiap org akan merasakan sensasi atau getaran yg berbeda.

Dan inilah ciri-ciri kalau Beliau telah menyatu pada kita :
Bila terasa badan kita besar dan keluar keringat seketika, tandanya beliau I Ratu Ngurah Tangkeb Langit telah menyatu pada diri kita. Segala penyakit dan penderitaan musnahlah adanya.
Bila terasa panas pada telinga, dan terbelalak rasanya mata, tidak mampu berkedip, tandanya beliau I Ratu Wayan Tebeng menyatu pada diri kita, segala mara bahaya dan penyakit di tolaknya.
Bila terkejut dan merasa takut, bulu kuduk berdiri seperti angin dingin, tandanya beliau I Ratu Made Jelawung menyatu pada diri kita, segala penyakit yang berasal dari upas dan cetik musnah semuanya.
Bila berdenyut pada kemaluan, dan hidup secara tiba-tiba, berat rasanya badan, seolah-olah ingat dan rindu pada sesuatu yg bersifat gaib, tandanya beliau I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan menyatu dengan diri kita. Tidak takut dalam segala bentuk tantangan.
Bila tiba-tiba kita menjadi pintar, mampu berbicara banyak, pembicaraan yang halus dan manis, tandanya I Ratu Ketut Petung menyatu pada diri kita. Segala penderitaan sirna adanya.
Inilah cirri-ciri beliau pada alam semesta raya ini :
Bila kita merasakan atau mencium bau yang harum seperti bau bunga, kemudian megledug seperti jatuhnya buah kelapa , seperti suara bedeg diinjak-injak, itu semua adalah pengikut I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan. Beliau memanggil saudaranya semua, untuk mau menyatu pada diri kita.

Palinggih Hyang Kompiang, Kawitan, Paibon, Padarmaan

Palinggih Hyang Kompiang, Kawitan, Paibon, Padarmaan
Tattwa, Kedudukan, dan Perbedaannya

Pulau Bali pernah mengalami musibah besar di mana rakyatnya melarat karena bencana alam yang sambung menyambung, tanaman pangan selalu rusak karena diserang hama, dan wabah penyakit menjalar cepat mematikan manusia dan binatang peliharaan.

Menurut Rontal Purana Pasar Agung hal ini disebabkan karena penduduk Pulau Bali tidak “ngaturang aci” dan bersembahyang ke Pura Besakih. Ketika pemerintahan Raja Mayadanawa selama 15 tahun, yaitu sejak tahun 959 Masehi sampai dengan tahun 974 Masehi, rakyat Bali memang benar dilarang ngaturang aci dan bersembahyang ke Besakih.

Para tentara kerajaan membangun pos penjagaan pertama di pinggir sungai Balingkang (letaknya di timur pasar Menanga sedikit lewat jembatan sekarang dikenal dengan pelinggih Yeh Ketipat) dan kedua, di Pura Manikmas sekarang, untuk menjaga agar tidak ada penduduk yang datang ke Besakih.

Setiap yang datang ditangkap lalu digiring ke hadapan raja Mayadanawa. Disaksikan oleh para patihnya, yaitu Kryan Patih Kalawong dan Kryan Bedawong, Raja lalu bersabda:

Renge ling ngong, samangke ngong angrenge wrtha kunang padartanya ring Basukih hana Dewa, hana Dalem; ndi hana Dalem waneh lawan ingong, ingong Dalem, ingong Dewa yatika tan tuhu mangkana sinembah dening wong Bali… dst

… iti ta wang ingong Dalem jati, yan ri Dalem Kadewatan dudu Dalem, ing Basukih dudu Dewa, ingong Dewa jati, ingong haturi widhi wedana mwah sembahen ta ingong asung uripta, mwah samidinta… dst

Jadi, singkatnya, Mayadanawa telah menyatakan dirinya: “akulah Dewa yang patut kamu sembah, janganlah menyembah Dewa yang ada di Besakih”.

Ini membuat para Dewa di Kahyangan memutuskan untuk memusnahkan Mayadenawa. Bhatara Indra diutus untuk tugas suci ini, dan akhirnya Mayadanawa dikalahkan. Bhatara Indra lalu menitahkan agar rakyat Bali membangun kahyangan di Desa masing-masing, taat ngaturang aci, dan bersembahyang di Besakih.

Aci yang dititahkan itu adalah: Eka Bwana, Panca Walikrama, dan Eka Dasa Rudra. Di saat itu Ida Bethara Samodaya nyejer di Besakih, dan ketangkil oleh seluruh rakyat yang tinggal di Pulau Bali.

Bagi Para Rsi, Mpu, dan arwah leluhur perintis pertama yang datang di Bali dibuatkan palinggih di Besakih agar dapat ngiring Ida Bethara Samodaya.

Itulah antara lain yang merupakan awal dibangunnya Pura Pedarmaan di Besakih. Kemudian perkembangan ini lebih pesat setelah kedatangan Mpu Kuturan di Bali pada tahun 1001 Masehi. Beliau menata kembali parahyangan mulai dari Sanggah Kemulan Rong Tiga untuk pawongan (rumah tangga),

Sanggah Pamerajan untuk beberapa rumah tangga, di mana dipuja arwah suci para leluhur yang berasal dari garis satu waris. Lebih besar dari Sanggah Pamerajan adalah berturut-turut: Pura Panti dan Pura Paibon, untuk penyungsungan bagi beberapa Sanggah Pamerajan.

Pura Dadia untuk penyungsungan bagi beberapa Panti dan Paibon, dan Pura Kawitan, untuk penyungsungan bagi beberapa Dadia.

Perbedaan status Pura-Pura tersebut ditentukan oleh:

Jumlah penyungsung.
Jumlah dan jenis Palinggih yang ada.
Historis (sejarah berdirinya Pura-Pura itu).
Perlu diketahui bahwa pada umumnya tiap-tiap Sanggah Pamerajan, Panti, Paibon, Dadia, Kawitan, bahkan Pura Pedarmaan tidak sama baik jumlah/ susunan palinggih, maupun Ida Bethara yang di-stana-kan, karena masing-masing mengikuti sejarah leluhurnya dahulu.

Mengenai asal satu waris dan hubungan ke-cuntaka-an atau saling sumbah pada umumnya sudah sulit ditemukan dalam tingkatan Kawitan, karena demikian panjangnya silsilah leluhur yang melewati batas waktu dalam hitungan abad (ratusan tahun).

Selanjutnya mengenai Palinggih Hyang Kompiang dapat diuraikan sebagai berikut: Palinggih Hyang Kompiang merupakan fenomena baru dalam perkembangan Agama Hindu di Bali yang dimulai sekitar tahun 1970, yaitu beberapa tahun kemudian setelah diadakannya Karya Agung Eka Dasa Rudra (1963) di Pura Besakih.

Ketika itu sebelum Karya, diwajibkan untuk “membersihkan” setra, sehingga pemeluk Hindu ramai-ramai ngaben. Upacara pengabenan dilanjutkan dengan nuntun Dewa Hyang/ Hyang Kompiang ke Pura Dalem Puri di Besakih.

Setelah nuntun lalu Dewa Hyang distanakan di Sanggah Pamerajan pada suatu bentuk bangunan gedong limas; palinggih itu dinamakan Palinggih Hyang Kompiang atau Palinggih Dewa Hyang.

Tempatnya berbeda-beda, ada yang di jeroan Sanggah Pamerajan, ada pula yang di jabaan Sanggah Pamerajan. Sumber sastra mengenai Palinggih Dewa Hyang ini tidak ditemukan.

Dasarnya membangun Palinggih Dewa Hyang kemungkinan adanya persepsi yang berbeda mengenai fungsi Kamulan yang menyatakan bahwa Kamulan adalah stana Sanghyang Tri Murti, yaitu Brahma, Wisnu, Iswara atau Sanghyang Tiga Sakti.

Oleh karenanya Dewa Hyang kurang tepat distanakan bersama-sama dengan Sanghyang Tri Murti, sehingga perlu dibangun palinggih tersendiri.

Banyak sumber sastra tegas-tegas menyatakan bahwa Kamulan adalah stana Atman yang sudah bersih.

Kutipan Lontar Gong Wesi:

…NGARANIA IRA SANG ATMA, RING KAMULAN TENGEN BAPANTA NGA SANG PARATMA RING KAMULAN KIWA IBUNTA NGARAN SANG SIWATMA RING KAMULAN MADIA RAGANTA, ATMA DADI MEME BAPA RAGANE MANTUK RING DALEM DADI SANG HYANG TUNGGAL NUNGGALANG RAGA…

Kutipan Lontar Usana Dewa:

…RING KAMULAN NGARAN IDA SANGHYANG ATMA, RING KAMULAN TENGEN BAPA NGARAN SANG PARATMA, RING KAMULAN KIWA IBU NGARAN SANG SIWATMA, RING KAMULAN TENGAH NGARAN RAGANYA, TU BRAHMA DADI MEME BAPA MERAGA SANGHYANG TUDUH

Kutipan dari Lontar Siwagama:

…KRAMANIA SANG PITARA MULIHANG BATUR KAMULANYA NGUNI…

Selanjutnya adalah kutipan Lontar Purwabhumi Kamulan:

…RING WUS MANGKANA, IKANG DAKSINA PENGADEGAN SANG DEWA PITARA TINUNTUNAKENA MARING SANGGAH KAMULAN, YAN LANANG UNGGAHAKENA MARING TENGEN, YAN WADON UNGGAHAKENA MARING KIWA, IRIKA MAPISAN LAWAN DEWA HYANGNYA NGUNI, WINASTU JAYA-JAYA DE SANG PANDITA KINA BHAKTYANANA MUWAH DENING SWARGANYA MWANG SENTANAN NIRA…

Semua bukti sastra itu dikuatkan dengan konsep Sanggah Pamerajan menurut Mpu Kuturan, bahwa Sanggah Pamerajan adalah tempat suci untuk pemujaan arwah leluhur, di mana palinggih utamanya adalah Kamulan.

Pemujaan terhadap roh leluhur yang suci didasarkan pada pengertian bahwa karena tujuan akhir adalah bersatunya Atman dengan Brahman (Ida Sanghyang Widhi atau Sanghyang Tri Murti atau Sanghyang Tiga Sakti) maka roh suci leluhur itu disembah, didoakan, dan di-identikkan dengan Sanghyang Tiga Sakti (dalam konsepsi Moksha).

Di sinilah letak perbedaan persepsi yang dikemukakan di atas.