Senin, 04 Februari 2013
Hubungan Seks di Luar Nikah Menurut Hindu
Bolehkah Dalam Keadaan Hamil Mengikuti Upacara Potong Gigi?
Sesangi
Upacara Tiga Bulanan dan Otonan
- Ayah dan ibu bayi mebeakala dengan tujuan menghilangkan cuntaka karena melahirkan.
- Nyama bajang dan kandapat “diundang” untuk dihaturi sesajen sebagai ucapan terima kasih karena telah merawat bayi sejak dalam kandungan sampai lahir dengan selamat. Tattwa yang sebenarnya adalah syukuran kehadapan Hyang Widhi atas kelahiran bayi.
- Si Bayi natab banten bajang colong, artinya menerima lungsuran (prasadam) dari “kakaknya”, yaitu kandapat (plasenta: ari-ari, getih, lamas, yeh-nyom).
- Si Bayi “mepetik” (potong rambut, terus digundul, menghilangkan rambut “kotor” yang dibawa sejak lahir).
- Si Bayi “mapag rare” (disambut kelahirannya) di Sanggah pamerajan, memberi nama, dan menginjakkan kaki pertama kali di tanah di depan Kemulan.
- Si Bayi menerima lungsuran (prasadam) Hyang Kumara, yaitu manifestasi Hyang Widhi yang menjaga bayi.
- Si Bayi “mejaya-jaya” dari Sulinggih, yaitu disucikan oleh Pendeta.
- Regek, yaitu anyaman 108 helai daun kelapa gading berbentuk manusia, sebagai simbol Nyama Bajang;
- Papah, yaitu pangkal batang daun kelapa gading sebagai simbol ari-ari,
- Pusuh, yaitu jantung pisang sebagai simbol getih (darah),
- Batu, sebagai simbol yeh-nyom,
- Blego, sebagai simbol lamas,
- Ayam, sebagai simbol atma,
- Sebuah periuk tanah yang pecah, sebagai simbol kandungan yang sudah melahirkan bayi,
- Lesung batu, sebagai simbol kekuatan Wisnu,
- Pane, simbol Windu (Hyang Widhi),
- Air dalam pane, simbol akasa,
- Tangga dari tebu kuning sepanjang satu hasta diberi palit (anak tangga) tiga buah dari kayu dapdap , sebagai simbol Smara-Ratih (Hyang Widhi yang memberi panugrahan kepada suami-istri).
Pitra Yadnya
- Ngaben: melepaskan ikatan roh pada tubuh manusia (panca mahabhuta)
- Nyekah/ Ngroras: melepaskan ikatan roh pada pengaruh panca indria (panca tanmatra)
- Mepaingkup: menstanakan roh di sanggah pamerajan
- Meajar-ajar: ‘nangkilang’ roh ke pura-pura tertentu
- kurang memahami makna upacara-upacara dimaksud.
- mengikuti dresta yang juga tidak diketahui sumber sastranya yang tepat.
Nyegara Gunung
- Lempuyang (Telaga Sawang, Puncak Bisbis, Lempuyang Madya, Pasar Agung, Lempuyang Luhur)
- Silayukti (Pura Mpu Kuturan dan Pura Mpu Bharadah)
- Goa Lawah
- Pura Dasar Bhuwana Gelgel
- Pura Dalem Puri (Besakih)
- Pedarmaan Pasek (Besakih)
- Penataran Agung (Besakih)
Om Swastiastu - salam sekaligus doa
Sembah berarti menghormati, menyayangi, memohon, menyerahkan diri dan menyatukan diri.
- Kalau menyembah bhuta atau alam semesta tangan dicakupkan di pusar. Sembah seperti itu berarti untuk mencurahkan kasih sayang kita pada alam untuk menjaga kelestariannya.
- Menyembah sesama atau pitra, mencakupkan tangan di dada. Sembah seperti itu adalah untuk menghormati sesama manusia.
- Menyembah dewa tangan dicakupkan di selaning lelata yaitu di antara kening di atas mata.
- Hanya menyembah Tuhanlah tangan dikatupkan dengan sikap anjali di atas ubun-ubun. Ini artinya hanya menyembah Tuhanlah kita serahkan diri secara bulat dan satukan diri sepenuh hati.
Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti.
- Kamus Bahasa Bali Kata “Swastyastu” berasal dari kata suasti, yang berarti selamat, menjadi suastiastu yang berarti semoga selamat.
- Kamus Kawi-Bali “Swastyastu berasal dari kata swasti yang berarti raharja, rahayu, bagia, dan rahajeng. Astu yang berarti dumadak, patut, sujati, sinah. Kata astu berkembang menjadi “Astungkara” yang berarti puji, alem dan sembah. Sehingga “swastyastu” berarti semoga selamat, semoga berbahagia
- Kamus Jawa Kuna-Indonesia “Swasti” berarti kesejahteraan, nasib baik, sukses; hidup, semoga terjadilah (istilah salam pembukaan khususnya pada awal surat atau dalam penerimaan dengan baik). Sedangkan “astu” memiliki 2 arti yaitu: 1. Semoga terjadi, terjadilah…. (seringkali pada awal sesuatu kutuk, makian, berkah, ramalan), pasti akan….. 2. Nyata-nyata, sungguh-sungguh (campuran dengan “wastu”?). Kata "astu" berkembang menjadi “astungkara” yang berarti berkata “astu”, mengakui, mengiyakan dengan segan, perkataan “astu”. Dari pengertian tersebut kata “swastyastu” berarti semoga terjadilah nasib baik, sungguh sejahtera.
- Kamus Sanskerta-Indonesia “Svasti” berarti hujan batu es, salam, selamat berpisah, selamat tinggal. Berkembang menjadi “svastika”, “svastimukha”, “svastivacya”. Kata svastika berarti tanda sasaran gaib, tidak mendapat halangan, pertemuan empat jalan, lambang agama Hindu. Svastimukha berarti yang belakang, terakhir, penyanyi, penyair. Svastivacya berarti salam ucapan selamat. Kata “astu” berarti sungguh, memuji. Dari pengertian kedua kata tersebut dapat disimpukan “svastiastu” berarti menyatakan selamat berpisah.
- pengertian “Swastyastu” dalam kamus Bahasa Bali, Kawi Bali dan Jawa Kuna memiliki pengertian yang hampir sama, yaitu berarti semoga selamat, semoga bahagia, semoga sejahtera. Sedangkan dalam kamus Sanskerta berarti pernyataan selamat berpisah, selamat tinggal
- kata “astu” sebagai penutup hanya mempertegas kata “svasti” yang memang memiliki arti semoga, selamat berpisah, selamat jalan.
Banten Pejati - Cara Membuat Dan Kajian Filosofis
- Daksina
- Banten Peras,
- Banten Ajuman/Soda
- Ketupat Kelanan
- Penyeneng/Tehenan/Pabuat
- Pesucian Pesucian
- Segehan alit
- Daun/Plawa; lambang kesejukan.
- Bunga; lambang cetusan perasaan
- Bija; lambang benih-benih kesucian.
- Air; lambang pawitra, amertha
- Api; lambang saksi dan pendetanya Yajna.
- Peras kepada Sanghyang Isvara
- Daksina kepada Sanghyang Brahma
- Ketupat kelanan kepada Sanghyang Visnu
- Ajuman kepada Sanghyang Mahadeva
Senin, 02 April 2012
Filosofi Selonding Dalam Tatwa Hindu
Gambelan ini berfungsi menyajikan tabuh-tabuh petegak atau tanpa disertai tari-tarian, baik dalam kaitannya dengan pelaksanaan upacara Agama serta kepentingan-kepentingan lainnya. Namun perlu diketahui hanya dalam upacara Agama pada hari raya-hari raya tertentu saja Gamelan Slonding ini ditabuh atau dibunyikan, Gambelan Selonding merupakan salah satu gamelan yang di sakralkan oleh masyarakat desa Tenganan pangringsingan, Di kalangan masyarakat Tenganan Pagringsingan gamelan Selonding diberi nama Bhatara Bagus Selonding.
Sejarah munculnya Selonding dikaitkan dengan sebuah mitologi yang menyebutkan bahwa pada zaman dulu orang-orang Tenganan mendengar suara gemuruh dari angkasa yang datang secara bergelombang. Pada gelombang pertama suara itu turun di Bongaya (sebelah timur laut Tenganan) dan pada gelombang kedua suara itu turun didaerah Tenganan Pagringsingan. Setelah hilangnya suara itu diketemukan gamelan Selonding (yang berjumlah tiga bilah). Bilah-bilah itu kemudian dikembangkan sehingga menjadi gamelan Selondin seperti sekarang. Gambelan Selonding memang masih dapat bertahan dari terpaan gelombang peradaban manusia dalam rentang waktu yang cukup lama, dan ini hanya dimungkinkan oleh adanya suatu vitalitas nilai universal yang terkandung di dalamnya dan terjalin erat dengan masyarakat pendukungnya.
Barungan gamelan selonding terdiri dari delapan buah instrumen antara lain dua buah gangsa,empat buah oncangan dan dua buah penerang. Kalau dilihat bentuk keseluruhannya hampir semua sama yaitu berbentuk trapesium.
Adapun masing-masing pelawah selonding mempunyai ukuran sebagai berikut:
1.Instrumen gangsa wadon.
Panjang bagian atas : 76 cm
Panjang bagian bawah:69 cm
Lebar : 15,5 cm
Tinggi : 25 cm
2.Instrumen gangsa lanang
Panjang bagian atas: 76 cm
Panjang bagian bawah: 67 cm
Lebar: 14 cm
Tinggi: 25 cm
3.Instrumen oncangan lanang I
Panjang bagian atas: 41 cm
Panjang bagian bawah: 36 cm
Lebar: 15 cm
Tinggi: 20 cm
4,Instrumen oncangan wadon I
Panjang bagian atas: 43,5 cm
Panjang bagian bawah: 33,5 cm
Lebar: 18,5 cm
5.Instrumen oncangan wadon II
Panjang bagian atas: 57 cm
Panjang bagian bawah: 43 cm
Lebar: 18,5 cm
Tinggi: 20 cm
6.Instrumen oncangan lanang II
Panjang bagian atas: 43,5 cm
Panjang bagian bawah: 41 cm
Lebar: 16,5 cm
Tinggi: 20 cm
7.Instrumen penerang lanang
Panjang bagian atas: 61,5 cm
Panjang bagian bawah: 55 cm
Lebar: 16,5 cm
Tinggi: 21 cm
8.Instrumen penerag wadon
Panajng bagian atas: 61,5 cm
Panjang bagian bawah: 54 cm
Lebar: 16,5 cm
Tinggi: 21 cm
Sesuai dengan struktur dari lagu-lagu selonding bahwa tiap-tiap inbstrumen mempunyai tugas yang berbeda-beda dalam barungannya. Adapun tugas-tugas itu ialah seperti berikut:
- Gangsa lanang, jumlah bilahnya delapan buah bertugas mengendalikan melodi lagu. Urutan nadanya: dong – dang – deng – dung – dang – dong – ding – dong .
- Gangsa wadon, jumlah bilahnya delapan buah, bertugas mengendalikan melodi lagu. Urutan nadanya : ding – dong – dang – deng – dung – dang – dong – ding.
- Oncangan lanang I, jumlah bilahnya empat buah, bertugas menjalin kotekan/ cecandetan. Urutan nadanya : dung – dang – dong – ding .
- Oncangan lanang II, jumlah bilahnya empat , bertugas menjalin kotekan / cecandetan. Urutan nadanya : ding – dong – dang – deng
- Oncangan wadon I, jumlah bilahnya empat buah , bertugas menjalin kotekan/cecandetan. Urutan nadanya : ding – dong – dang – deng .
- Oncangan wadon II, jumlah bilahnya empat buah , betugas membuat jalinan kotekan/cecandetan. Urutan nadanya : dung – dang – dong – ding.
- Penerag lanang, jumlahnya empat buah, bertugas memperjelas tekanan lagu. Urutan nadanya: dung – dong – ding.
- Penerag wadon, julah bilahnya empat buah, bertugas memperjelas tekanan lagu. Urutan nadanya : ding – dong – dang – deng .
- Ø Sekar gadung
- Ø Nyangnyangan
- Ø Rejang gucek
- Ø Rejang ileh dll
Sumber : ni ketut suryatini.
Gong Suling bersifat Melodi Unisono
Sajian Gong Suling didominasi oleh suling. Diawali dengan berjajarnya para pemain suling dengan pemain Rincik, klenang dan klenyir di dalam sajiannya. Para pemain saling mengisi dalam sajian yang secara tidak langsung mengambil pola dari gong kebyar tersebut. Terjadinya perkembangan fungsi suling tersebut merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik dimana suling yang pada awalnya memiliki fungsi sekunder yaitu instrumen pendukung, berkembang menjadi instrumen primer yaitu instrumen utama.
Gamelan Gong Suling adalah barungan gamelan yang didominir oleh alat-alat tiup suling bambu yang didukung oleh instrumen-instrumen lainnya. Gamelan ini berlaraskan pelog lima nada.
Gong Suling pada hakekatnya merupakan pengembangan dari Gong Kebyar, tabuh – tabuh yang dibawakan hampir semuanya berasal dari Gong Kakebyaran, hanya saja pembawa melodinya tidak lagi gangsa yang terbuat dari krawang melainkan sejumlah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda.
Salah Satu instrumen alam Gong Suling adalah terdapatnya suling bambu yang besar ukurannya. Panjangnya ada sekitar 35 inci dan berdiameter 1,7 inci. Wilayah nadanya lebih sedikit dari dua oktaf dan bermula pada nada B, di bawah nada C pusat. Ini adalah jenis suling vertikal dengan tiup ujung dan merupakan suling bass. Suling tersebut pada bagian bawah jika sedang dimainkan dalam kedudukan vertikal maka akan terbuka. Pada bagian bawah diraut atau diiris sedikit dari buku ruasnya. Lubang-lubang jari yang dinamakan song, terdapat pada bagian atas dari suling dan jumlahnya diselaraskan dengan tangga nada yang diperlukan. Ukuran suling pada kesenian Gong Suling yang panjang tersebut, mengharuskan pemainnya merentangkan tangannya dalam memainkan atau meniupnya dan ujungnya yang terbuka harus ditopangkan ke tanah.
Instrumen-instrumen yang digunakan dalam Gamelan Gong Suling ialah:
1. 2 (dua) buah kendang
2. 1 (satu) buah kajar
3. 1 (satu) buah kemong
4. 1 (satu) buah ceng-ceng kecek
5. 1 (satu) buah gong pulu
6. 1 (satu) buah kempur
7. 2 (dua) buah suling berukuran kecil
8. 4 (empat) buah suling berukuran sedang
9. 2 (dua) buah suling berukuran besar.
Lagu yang dimainkan dalam Gamelan gong Suling terdiri dari:
Gending petegak
Gending petegak yang dimaksud ialah gending-gending yang disajikan secara instrumental. Garis yang tegas untuk menyatakan cirri-ciri ini memang belum mengikat dalam hubungan praktik karawitan dalam masyarakat luas dewasa ini. Pengaruh kreasi local dimana instrument yang bersangkutan hidup sangat sering mempengaruhi fungsi atau tugas-tugas dari sebuah ansambel/barungan gamelan. Gending-gending petegak ini disajikan saat-saat diadakannya upacara adat-keagamaan. Sering juga karawita tari disajikan sebagai gending-gending petegak.
Penyajian gending-gending petegak seperti disinggung diatas, bentuknya bentuknya termasuk jenis-jenis tabuh. Ada bagian-bagian tertentu cara memainkannya diulang-ulang dan bagian penghubung yang berfungsi sebagai perantara dari bagia-bagian yang dihubungkan. Bagian yang harus diulang tidak diharuskan dengan satu perhitungan pasti, tetapi tergantung berapa kali pemain ingin mengulang bagian tertentu itu, kemudian beralih dengan kode-kode tertentu dari satu atau lebih alat yang berfungsi mengendalikan irama (biasanya instrument kendang) dan yang mengendalikan melodi (biasanya instrument terompong) atau kalau tidak memakai instrument terompong biasanya yang mengendalikan melodi adalah instrument gangsa giing. Alat pengendali irama dengan pengendali melodi bekerjasama untuk memimpin tempo, dinamika, dan tujuan penyajian pada waktu lagu itu beralih. Demikian juga kerjasama antara kedua tugas alat pengendali irama dan pengendali melodi selalu dibutuhkan dalam menyelesaikan lagu.
Adapun tabuh petegak yang dimainkan dalam barungan Gamelan Gong Suling diantaranya:
1. Sinom ladrang
2. Lengker
3. Selisir.
4. Sekar gadung
5. Bapang gede, dll
Gending untuk mengiringi tari
Sistim penyajian gending-gending jenis ini disesuaikan dengan kepentingan penyajian tarian yang diiringi. Jumlah dan jenis gending-gending ini sangat banyak, sama banyak dengan jumlah dan jenis tari-tarian yang ada. Hampir semua jenis barungan gamelan Bali dapat dipakai untuk mengiringi tari-tarian, kecuali barungan gamelan Gambang belum popular untuk kepentingan musik iringan tari. Dalam hubungan dengan gending-gending iringan tari, maka gending yang termasuk jenis gending pengilak memegang posisi yang menonjol. Sering juga beberapa jenis gending untuk satu iringan tari, meskipun dimainkan hanya dengan satu barungan gamelan saja.
Gamelan angklung
Gambelan angklung adalah gambelan khas bali yang sering digunakan dalam prosesi/upacara kematian. Gambelan angklung menggunakan laras selendro dan tergolong barungan madya yang di bentuk oleh instrument berbilah dan berpencon dari krawang, kadang-kadang ditambah dengan angklung kocok (yang ukuran keci).Di bali selatan gambelan ini hanya menggunakan 4(empat) nada sedangkan di bali utara menggunakan 5(lima) nada. Berdasarkan konteks penggunaan gambelan ini serta materi tabuh yang dibawakan angklung dapat dibedakan menjadi :
Angklung klasik : Di mainkan untuk mengiringi upacara (tanpa tari-tarian)
Angklung kebyar : Di mainkan untuk mengiringi pegelaran tari maupun drama
Satu barung gambelan angklung bias berperan sebagai keduanya, karena sering kali menggunakan penabuh yang sama. Di kalangan masyarakat yang luas gambelan ini di kenal sebagai pengiring upacara Pitra Yadnya(ngaben). Di sekitaran Denpasar dan beberapa tempat lainnya, penguburan mayat di iringi dengan gambelan angklung yang menggantikan fungsi gambelan gong gede yang di pakai untuk mengiringi upacara Dewa Yadya (odalan) atau juga upacara lainnya.
instrument gambelan angklung terdiri dari : * 6-8 pasang alat yang terdiri dari sepasang jegogan, jublag, dan selebihnya pemade dan kantilan
* 3-4 pencon, reong angklung kebyar menggunakan 12 pencon
* 2 buah kendang kecil klasik dan 2 buah kendang besar jika memainkan angklung kebyar
* 1buah tawa-tawa
* 1 buah kempur kecuali angklung kebyar menggunakan gong
Gangsa angklung adalah suatu instrument yang mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari (neng,ndung,ndang, nding) dengan gaya nada selendro. Salah satu gangsa angklung biasanya bisa langsung berfungsi sebagai pengugal atau pemimpin dalam barungan angklung itu. Instrument gangsa ini biasanya menggunakan alat pukul panggul atau juga panggul gender. Cara memainkannya adalah satu nada di pukul kemudian d tutup sesuai dengan irama yang kita inginkan.
Kantialan angklung adalah instrument yang mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari nada (ndeng, ndung,ndang, nding)tetapi dengan nada lebih tinggi dengan gaya selendro. Kantilan ini berfungsi sebagai pemanis dalam permainan atau gending angklung tersebut. Instrument ini juga menggunakan alat pukul panggul atau juga menggunakan panggul gender
Jublag angklung adalah instrument yang juga mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari nada(ndeng,ndung,ndang,nding) tetapi nadanya lebih rendah dengan gaya selendro. Jublag ini berfungsi sebagai penandan dalam gending angklung itu sendiri. Insterument ini menggunakan alat pukul panggul tetapi ukurannya lebih besar dan d bawah panggul itu menggunakan karet agar suara jublag terdengar lebih merdu
Reong angklung adalah instrument yang berpencon dengan gaya nada selendro dan dimainkan oleh 4(empat) orang pemain atau penabuh. Instrument ini menggunakan alat pukul panggul tetapi panggul itu di lilit dengan benang dengan tujuan agar suara reong tersebut bisa lebih merdu
Kendang angklung, biasanya kalau untuk mengiringi upacara kematian kendang angklung yang digunakan adalah kendang yang berukuran kecil karena lagu yang dimainkan adalah lagu ysng bersifat sedih tetapi dalam angklung kebyar biasanya menggunakan kendang yang ukurannya lebih besar karena bentuk lagunya lebih bersemangat dan juga berbentuk kekebyaran. Instrument ini dimainkan oleh 2(dua) orang penabuh. Kalau menggunakan kendang berukuran kecil cara memainkannya hanya memukul bagian samping kanan yang diameternya lebih besar atau mukaknya saja, tetapi kalau menggunakan kendang besar cara memainkannya menggunakan 2(dua) tangan dengan memukul bagian samping kendang dengan motif pukulan seperti gegilak, dll
Tawa-tawa angklung merupakan alat sebagai tempo yang membawa lagu itu cepat atau pelan.
Gamelan Gambang Dalam Upacara Pitra Yadnya
Minggu, 01 April 2012
Kanda Pat Bhuta
Meditasi Kanda Pat Butha
Kanda Pat Bhuta terdiri dari 27 bentuk meditasi , dari 27 bentuk meditasi tersebut kebanyakan bersifat negatif atau merusak, sementara 3 ( tiga ) yang baik yaitu (Meditasi Kanda Pat Somyaning Butha , Meditasi Kanda Pat Penundung Butha dan Meditasi Kanda Pat Pemrelina Butha) , ketiga Meditasi Kanda Pat Bhuta yang baik ini harus di kuasai agar tidak bisa ganggu oleh mereka yang menguasai Kanda Pat Bhuta yang bersifat negatif. Menurut tutur yang terdapat dalam pustaka suci bahwasanya di dalam raga manusia terdapat unsur kekuatan Dewa dan unsur kekuatan Butha dan apa yang terdapat di Buana Agung ( alam Semesta ), juga terdapat dalam Buana Alit ( diri kita ), sebaliknya juga begitu, salah satu diantara tersebut adalah tentang Butha, bahwasanya didalam diri manusia terdapat Butha begitu juga di Buana Agung atau Alam Semesta yang bahkan jumlah butha di Buana Agung jemlahnya ribuan jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang ada di dalam diri manusia atau dalam buana alit. sedikit pengetahuan Bhuta yang ada dalam diri manusia ( Buana Alit ) dan Butha yang ada di alam semesta ( Bhuana Agung ), di jelaskan dalam Pustaka Kanda Pat Bhuta sebagai berikut : pada saat manusia berada didalam kandungan ( duk manusa kantun ring telengin cecupu manik ), kita memiliki empat saudara sejati ” Catur Sanak “, yang bernama I Anta – I Preta – I Kala – I Dengen . selanjutnya ketika manusa lahir : I Dengen menjadi Yeh Nyom selanjutnya menjadi I Bhuta Petak , selanjutnya menjadi I Bhuta Janggitan selanjutnya menjadi I Bhuta Anggapati, Sedangkan I Kala menjadi Getih selanjutnya menjadi I Bhuta Abang selanjutnya menjadi I Bhuta Karuna selanjutnya menjadi I Bhuta Merajapati , sedangkan I Preta menjadi Lamas selanjutnya menjadi I Bhuta Ireng selanjutnya menjadi I Bhuta Taruna selanjutnya menjadi I Bhuta Banaspati, sedangkan I Anta menjadi Ari Ari selanjutnya menjadi Bhuta Kuning, selanjutnya menjadi Bhuta Lembukania, selanjutnya menjadi Bhuta Banaspati…… , disamping bhuta yang ada didalam diri manusia ( Bhuana Alit ), juga terdapa Bhuta Kala yang ada di alam semesta ( Bhuana Agung ), malahan jumlahnya jauh lebih banyak dari pada yang ada di Bhuana Alit , Bhuta yang ada di alam semesta jumlahnya ribuan dan di pimpin oleh 108 Butha dan 108 Kala , 108 Bhuta ( diantaranya adalah Bhuta Bucari, Bhuta Ulu Singa, Butha Ulu Gajah, Bhuta Ulu Wresabha , Butha Ulu Sliwah , Bhuta Kalika , Bhuta Basang Basang , dan yang lainnya , sementara 108 Kala ( diantaranya adalah Sang Kala Bucari, Sang Kala Dangastra , Sang Kala Mreka , Sang Kala Sada , .Sang Kala Guna Guna , dan yang lainnya ) , berikut penulis memberikan sekelumit cuplikan Mantram yang terdapat dalam Meditasi tersebut di atas :
‘Mantram Meditasi Somyaning Bhuta’ :
Ong………………..Namo Siwa Ya…………Ong Niat ingsun ngrangsukang Yoga Samadhi Somyaning Bhuta kang Marisomya watek para bhuta kala kabeh, Ong sanak ngulun I Dengen mawak yeh Nyom matemahan Bhuta Petak, matemahan Bhuta Janggitan, matemahan Bhuta Aggapati magenah ring kulit………………………..dst, lah ta sira pada metusaking adnyana mapupul to sira ring uluhati anerus ring kuncit,,,,anerus ring selaning ………………………….dst.
Melalui meditasi Tuntunan Semadhi Kanda Pat yang dinamakan Meditasi Somyaning Butha ini kita di latih memupuk , menumbuhkan , meningkatkan unsur kekuatan Butha yang ada dalam diri manusia kemudian di arahkan untuk sesuatu yang berguna bagi kehidupan yaitu untuk : Menyomyakan Butha ( berdamai dengan Butha ), Menyucikan berbagai pekarangan, abian , tegalan , carik/sawah , Penyucikan perumahan (pomahan)
Sejak jaman dulu para Yogi atau Pertapa menyomyakan Bhuta dengan menggunakan sarana tertentu , ada yang menggunakan sarana “pemusatan pikiran atau samadhi”, bagi kelompok pertapa yang kebanyakan pengikutnya memiliki tingkat pengetahuan atau jnana yang tinggi, sedangkan bagi kelompok pertapa yang kebanyakan pengikutnya memiliki tingkat atau jnana yang masih rendah menggunakan sarana lelaban berupa segehan, caru , dan sebagainya, mulai dari segehan warna putih – kuning kekuatan berdamainya 3 hari, segehan manca warna kekuatan berdamainya 5 hari, dan segehan agung kekuatan berdamainya 15 hari. Caru brumbun kekuatan berdamainya dengan Butha Kala selama 6 bulan, Caru Manca Sato kekuatan berdamainya dengan Butha selama 1 tahun, Caru Manca Sanak kekuatan berdamainya dengan Butha Kala selama 5 tahun 5 bulan , Caru Resi Gana ( sehabis melakukan pecaruan semua ditanam, kekuatan berdama dengan Butha Kala selama 6 tahun, Caru Manca Kelud memiliki kekuatan berdamai dengan Butha Kala selama 8 tahun, Caru Balik Sumpah , memiliki kekuatan berdamai dengan para Butha Kala selama 9 tahun, Caru Tawur Gentuh meiliki kekuatan berdamai dengan para Butha Kala selama 10 tahun, sementara Caru Masepuh Agung kekuatan berdamainya 11 tahun, Caru Panca Wali Krama kekuatan berdamainya 12 tahun 6 bulan, Caru Eka Dasa Rudra kekuatan berdamai dengan Butha Kala 100 tahun, sementara Caru Malinggya Bhumi kekuatan berdamainya 400 tahun, sementara yang dikenal dengan Caru Arebhu Bhumi kekuatan berdamainya dengan para Bhuta Kala selama 1000 tahun. Paiketan Paguron Seruling Dewata termasuk kelompok yang berdamai dengan Bhuta dengan menggunakan sarana Pemusatan Pikiran (Samadhi) karena para pengikutnya kebanyakan tingkat pengetahuan (jnana) tinggi. Sementara kelompok Resi Markandya menggunakan sarana berbagai korban sato karena para pengikutnya kebanyakan para petani dan pekerja yang kurang mampu bersemadhi memusatkan pikiran dan kebiasaan ini telah di warisi oleh masyarakat Bali Dwipa sampai sekarang.
‘Mantram Meditasi Panundung Bhuta’ :
Ong……………….Namo Siwa Ya……………., ong Niat ingsun ngrangsukang yoga Samadhi Penundung Bhuta kang umalah para Bhuta Kala pegawe ala kabeh………………dst, Ong tumurun Betara Rudra lan Betara Kala saking ambara ngelayang masusupan ring angga sariranku, mayoga betara Rudra lan Betara Kala ring sariran ngulun mijil aken geni murub ring siwardwara, ring soca…………………………..dst…………………..
Meditasi Kanda Pat Panundung Bhuta ini mengajarkan pada kita cara untuk mengarahkan kekuatan Bhuta dalam diri kita untuk mengusir para Bhuta yang tidak mau berdamai dan sering mengganggu kita sekeluarga agar pergi dari pekarangan rumah yang kita tempati. Pada saat proses pengusiran para Bhuta akan merasa kesakitan seperti di timpuk batu, atau dilempar dibanting dipukul dengan tongkat dan semuanya menjerit kesakitan pada saat pembacaan mantram ini.
‘Mantram Meditasi Pemrelina Bhuta’ :
Ong……………….Namo Siwa Ya……………., ong Niat ingsun ngrangsukang yoga Samadhi Pemrelina Bhuta kang mralina para Bhuta Kala pegawe ala kabeh luwirnia agringin jadma manusa, ngawe lara, adenda atma, angamet jiwa, amateni amejah jadma manusa………………………ong Bethara Rudra mesusupan ring angga sariran ngulun rumasuk saking siwadrawa anerus ring usus, anerus ring tangan tengen,……………………….ong Bethara Kala masusupan ring sariran ngulun , rumasuk saking siwadwara anerus ring uluhati anerus ring tangan kiwa…………………………………dst……….
Meditasi ini mengajarkan kepada para siswa cara mengarahkan kekuatan Bhuta yang ada pada diri kita untuk membunuh dan menghancurkan para Bhuta yang suka mengganggu manusia yang setelah di usir datang balik atau kembali mengganggu kita sekeluarga agar semuanya mati, musnah terbakar tanpa bekas, jadi abu.
Kanda Pat Dewa
Adapun mantra yang diucapkan saat mempelajari Kanda pat Dewa adalah:
- Om bhatara Iswara, ring purwa prenahira, rupanira putih, kahyangan nira ring papusuh, senjatan nira bajra, merunira tumpang lima, babahanira ring kuping tengen, wetunira ring idep.
- Om batara Brahma, ring daksina prenahira, rupanira bang, kahyanganira ring ati, senjatanira danda, merunira tumpang siya, babahanira ring mata tengen, wetunira ring panon, lintiran tan salah panon.
- Om batara Mahadewa, ring pascima prenahira, rupanira kunig, kahyanganira ring ungsilan, senjatanira nagapasa, merunira tumpang pitu, babahanira ring irung tengen, wetunira ring sabda.
- Om batara Wisnu, ring uttara prenahira, rupanira ireng, kahyanganira ring ampru, senjatanira cakra, merunira tumpang papat, babahanira ring cangkem, weetunira ring pangwangan.
- Om batara Siwa, ring madya prenahira, rupanira mancawarna, kahyangannira ring tumpuking ati, senjatanira padma, merunira tumpang solas, babahanira ring papusuh, wetunira ring manah, lintiranira tan salah manah.
- Om Batara Guru, haneng madyaning awyakti prenahira, wetunira ring adnyana, lintiran angadegaken adnyana. Hyang Wisesa wetuning angen-angen ring byantara, babahanira ring uneng-unengan, lintiran angen-angen. Om Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang, amepeki jagat bhuwana kabeh, anilahaken paksane, sakwehing kinaya-upaya, tuju teluh teranjana, desti, pepasangan, sesawangan, rerajahan, tan tumana ring awak sariranku, apan aku sarining Tunjung putih.
KANDA PAT SARI
Inilah ajarannya KANDA PAT SARI . Kanda = tutur = petuah = cerita = tetingkah = kesaktian = kesidian = kewisesan. Pat = empat Sari = utama jadi, Kanda Pat Sari berarti empat macam ajaran yang utama tentang ilmu kesaktian, kesidian dan kewisesan.
Beginilah ceritanya : pada waktu kita lahir ke dunia ini, pada saat yg sama lahir pula Sanghyang Panca Mahabutha, yang lahir bersama-sama dengan Sanghyang Tiga Sakti. Beliaulah Sanghyang Tiga Sakti amor ring Buwana Agung, kemudian dipuja oleh semua mahkluk hidup di dunia. Beliau di puja di Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem.
Sedangkan Sanghyang Panca Mahabutha menjadi pepatih di segala penjuru dunia. Sebagai pemelihara dunia. Dan semuanya mahasakti tidak terhingga. Bila di puja, diyakini, dan diresapi, maka Beliau dapat ngrangsuk ke dalam badan. Dapat memberikan jalan menuju kebijaksanaan, kewibawaan, kesaktian, kesidian, kawisesan, dan kemulyaan.
Inilah adanya beliau :
1. Yang paling tua berwujud yeh nyom, yang disebut ANGGAPATI, yg menjadi patih di pura ulun suwi, yg bernama I RATUNGURAH TANGKEB LANGIT, yang diikuti oleh Sang Bhuta Swadnya, Sang Bhuta Swasti, Sang Bhuta Tenggara, Beliau sbg dewanya sawah, gunung, sbg pemelihara dunia dan dipekarangan Beliau berstana di tugu (yg bertempat di barat laut) sbg dewanya segala hewan, bila di dlm badan beliau berstana di Kulit yg disebut Segare Tan Patepi dgn aksaranya “SANG” , berwujud Amerta Sanjiwani, rembesannya keluar dalam bentuk keringat. Faedahnya adalah untuk membasmi segala penderitaan, pada badan termasuk penyakit yang berat maupun penyakit yang ringan. Demikian pula apabila mendapat penderitaan karena melakukan sumpah Cor, dapatlah diampuni.. penjelmaan Beliau adalah berbentuk langit yg cemerlang, menjadi damuh(air gerimis yg jatuh dr langit pada dini hari) demikianlah saktinya I Ratu Ngurah Tangkeb Langit.
Sesaji/ banten aturan kepada Beliau :
Ketipat dampulan matenggek, taluh bokasem, segehan kepelan putih me be bawang jahe.
2. Yang paling wayanan ( yg lahir ke 2 ) berwujud Darah, yang bernama MRAJAPATI, kemudian menjadi patih di pura Sada. Kemudian beliau bergelar I Ratu Wayan Tebeng, diikuti oleh Sang Bhuta Usadi, Sang Bhuta Keli. Beliau sbg Dewatanya hutan, gunung, jalan, pintu keluarnya rumah ( lebuh ), pohon kayu, segala tumbuh-tumbuhan. Dalam badan Beliau berstana di dalam Darah. Sebagai Amerta Kamandalu, rembesannya adalah Bayu. Aksarantya
“BANG”
Yang bernama Tampaking Kuntul Nglayang. Fungsinya adalah untuk menolak segala perbuatan jahat baik skala maupun niskala. Semua dapat di tolaknya. Penjelmaannya menjadi api unggun, gunung, hutan, jalan, pohon besar.
Sesaji/ banten aturan kepada Beliau :
Ketipat galeng dgn telur itik, segehan barak me be bawang jahe.
3.Yang lahir madenan ( lahir no 3 ) berwujud Ari-ari yang bernama BANASPATI, menjadi pepatih di Pura Puseh. Beliau bergelar I Ratu Made Jelawung. Diikuti oleh Sang Bhuta Prajapati, Bhuta Bisrana. Beliau adalah dewatanya tanah tegalan, dewatanya perkebunan, dewatanya penginih-inih, dan segala yg berbuat jahat musnahlah adanya. Termasuk orang yang berbuat jahat di dalam pekarangan rumah, musnah adanya. Di dalam badan Beliau berstana di dalam Daging, dan di semua lubang yg ada di badan. Aksaranya adalah “TANG”
Kemudian disebut Galihing Kangkung. Rembesannya berbentuk rambut. Penjelmaan Beliau berwujud angin kencang, mahluk kecil ( gumatat-gumitit ), menjadi tegalan yg sangat luas, berwujud perkebunan yg pagarnya sangat sempurna, berwujud rumah besar yg bertembok tinggi.
Sesaji/ banten aturan kepada Beliau :
Ketipat gangsa, me be sate gede, segehan kepelan kuning me be bawang jahe.
4.Yang lahir Nyomanan (lahir no 4) berwujud Lamad ( Lamas )
Bernama BANASPATI RAJA, menjadi patih di Pura Dalem. Kemudian bergelar I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan. Di ikuti oleh Sang Bhuta Grabwag, Bhuta Sundung, Bhuta Slusuh, Bhuta Sendra. Beliau sakti tiada tandingannya. Beliau sbg pemelihara dunia. Sbg dewatanya kuburan, dewatanya sungai, jurang , pamgkung, , dewatanya Dete, Tonya, Samar, dewatanya pantai, dewatanya semua jenis burung, dewatanya semua balyan pengiwa dan penengen. Beliau menciptakan kekuatan mantra. Di dalam badan Beliau berstana di Urat. Beliau perwujudan Amerta Maha Tirta. Rembesannya menjadi Maolah. Aksaranya adalah “ANG”
Artinya Isin Buluh Bumbang. Penjelmaannya berwujud lautan, sungai, burung, berwujud manusia spt kita , orang tua yg berkampuh poleng.
Sesaji/banten aturan kepada Beliau :
Ketipat gong me be taluh meguling, sesari 11biji uang kepeng, rokok, segehan kepelan selem me be bawang jahe.
5.Yang lahir ketutan ( no 5 paling akhir )
Bernama BHUTA DENGEN. Menjadi pepatih di Pura Desa. Bergelar I Ratu Ketut Petung. Diikuti oleh Sang Bhuta Ngemban Nginte, Sang Ayu Draning, Beliau sbg Dewatanya Balang Tamak Bale Agung, dewanya Pelangkiran, dewanya Pasar, dewanya Tukang, sangging, undagi, pande, dewanya bale banjar, dan dewanya segala jenis Ikan.di badan Beliau berstana pada Tulang dan Sumsum, perwujudan Amerta Pawitra, rembesannya berwujud Rasa, aksaranya “ ING”
Yang di sebut Lontar Tanpa Tulis. Beliau sbg pemelihara kandungan, pemelihara diri sendiri. Beliau di benarkan membunuh musuh yg jahanam, pada diri kita. Penjelmaan Beliau berwujud Kilat, Bale agung, ikan, manusia laki-laki dan perempuan.
Sesaji/ banten aturan kepada Beliau :
Ketipat leket akelan, me be taluh bajongan, segehan brumbun me be bawang jahe.
Ini supaya di ingat, saktinya Beliau SANGHYANG PANCA MAHABHUTA, bila di kehendaki dan ingin memiliki kesaktian tersebut, wujudkanlah kekuatannya, masukkanlah di dalam badan, supaya menyatu dengan kita, merokok tidak dibenarkan dalam mempelajari Ilmu
MANTRA PEMUJAAN DAN PERMOHONAN
TATA CARA DAN UPACARA
Mantra pemujaan Beliau :
Ong Ang Ang Ong
Ong Ing Ong Ung Ang Ah Ah Tang
Ong Kyah Kyah Ong Shah
Ung Rung Reng Rong Wasat
Ong Ong Mang Wyang Syah
Mantra permohonan kepada Beliau :
Ih I Ratu Ngurah Tangkeb Langit
I Ratu Wayan Tebeng
I RatuMade Jelawung
I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan
I Ratu Ketut Petung
Aja sira lali asanak ring ulun
Apan ulun tan lali astiti bhakti ring sira
Wehan ta ulun panugrahan……… (sakti sidhi ngucap)
………………………………………………………………
Ong winursita rsyamuka
Angamet sarining amerta kusuma ya nama swaha
Jangan di lecehkan, karena mantra ini adalah ciptaan Beliau Bhatara Dalem.dapat dipergunakan sekehendak hati. Tinggal menambahkan kalimat permohonan pd titik-titik tersebut di atas. Mau sakti dalam segala hal perwujudan. Tidak dapat di tundukkan dalam segala kewibawaan. Yang jauh dapat di buat dekat, yg dekat dapat di buat jauh, segala yang ganas menjadi jinak.
Kemudian apabila berkehendak memuja Beliau Sanghyang Panca Mahabhuta supaya segera menyatu dengan diri kita, pada hari Sabtu Kliwon wuku Landep atau Hari Tumpak Landep ( hari piodalan Ida Sanghyang Panca Mahabhuta )
Banten/ upakara/ aturan kpd Beliau :
Banten/sesaji banten ketupat seperti yg telah disebutkan di atas tadi di tambah dengan :
-Rayunan satu pajeg ( be/ikan diolah sampai matang) ikan ayam, babi, itik
Boleh dipakai.
-Suci satu soroh
-Daksina gede satu dengan sesari 41 uang kepeng ( pis bolong )
-Permen/pemanisan satu dulang
-Rantasan secukupnya ( kain warna putih,merah,kuning, dan hitam )
-Segehan agung satu
- Ayam samumulung satu untuk samleh
-Tetabuhan arak-berem.
Dan juga banten pras pejati yg dihaturkan kehadapan Sanghyang Tiga Sakti dan leluhur kita, untuk mohon restu semoga Beliau semua berkenan dan Asung kerta wara nugraha.
Setelah sesajen diatas lengkap, kemudian diikuti dengan mantra2 danditambah dengan ucapan dgn bahasa sendiri sesuai permohonan. Permohonan itu hanya boleh diucapkan satukali saja yaitu kepada IDA IRATU NYOMAN SAKTI PENGADANGAN saja….karena Beliaulah nantinya yg akan memanggil saudara2nya untuk ikut merestui permohonan kita.
Inilah cara-caranya :
Pertama-tama banten pras pejati dihaturkan dihadapan pelinggih rong tiga katur ring Ida Sanghyang Tiga Sakti atau ring padma, jg banten pras pejati di haturkan ke leluhur minta doa restu. Selanjutnya sembahyang. Kemudian ucapkan mantra spt di bawah ini………….
Ih, I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, metu kita saking jagat wetan, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken:
Ketipat dampulan matenggek, maulam taluh bokasem, segehan kepelan putih maulam bawang jahe.
Ih, Iratu Wayan Tebeng, metu kita saking jagat kidul, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken: Ketipat galeng maulam taluh bebek, segehan kepelan barak maulam bawang jahe.
Ih, I Ratu Made Jelawung, metu kita saking jagat kulon, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken: Ketipat gangsa, maulam sate gede, segehan kepelan kuning maulam bawang jahe.
Ih, I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, metu kita saking jagat lor, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken:
Ketipat gong maulam taluh meguling, sesari 11biji uang kepeng, rokok, segehan kepelan selem maulam bawang jahe.
Ih, I Ratu Ketut Petung, metu kita saking jagat madya, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken: Ketipat leket akelan, maulam taluh bajongan, segehan kepelan brumbun maulam bawang jahe.
Tiosan saking punika wenten malih aturan manusanta mekadi suci asoroh, daksina gede, rayuna lan pemanisan, rantasan, segehan agung muang penyambleh ayam samumulung, metetabuhan arak berem.
Ajasira lali asanak ring ulun, Apan ulun tan lali astiti bakti ring sira, Wehan ta ulun panugrahan………………………………………………….. ( titik2 disi dgn permohonan menurut bhs nasing2 ) , Ong Winursita resyamuka angamet sarining amerta kusuma ya nama swaha.
Mantra diatas di ucapkan ber ulang- ulang secara pelan dan lirih , penuh dgn konsentrasi, sambil menghayati dan meresapi setiap katanya. Bila diterima kita akan merasakan suatu sensasi spiritual. Setiap org akan merasakan sensasi atau getaran yg berbeda.
Dan inilah ciri-ciri kalau Beliau telah menyatu pada kita :
Bila terasa badan kita besar dan keluar keringat seketika, tandanya beliau I Ratu Ngurah Tangkeb Langit telah menyatu pada diri kita. Segala penyakit dan penderitaan musnahlah adanya.
Bila terasa panas pada telinga, dan terbelalak rasanya mata, tidak mampu berkedip, tandanya beliau I Ratu Wayan Tebeng menyatu pada diri kita, segala mara bahaya dan penyakit di tolaknya.
Bila terkejut dan merasa takut, bulu kuduk berdiri seperti angin dingin, tandanya beliau I Ratu Made Jelawung menyatu pada diri kita, segala penyakit yang berasal dari upas dan cetik musnah semuanya.
Bila berdenyut pada kemaluan, dan hidup secara tiba-tiba, berat rasanya badan, seolah-olah ingat dan rindu pada sesuatu yg bersifat gaib, tandanya beliau I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan menyatu dengan diri kita. Tidak takut dalam segala bentuk tantangan.
Bila tiba-tiba kita menjadi pintar, mampu berbicara banyak, pembicaraan yang halus dan manis, tandanya I Ratu Ketut Petung menyatu pada diri kita. Segala penderitaan sirna adanya.
Inilah cirri-ciri beliau pada alam semesta raya ini :
Bila kita merasakan atau mencium bau yang harum seperti bau bunga, kemudian megledug seperti jatuhnya buah kelapa , seperti suara bedeg diinjak-injak, itu semua adalah pengikut I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan. Beliau memanggil saudaranya semua, untuk mau menyatu pada diri kita.
Palinggih Hyang Kompiang, Kawitan, Paibon, Padarmaan
Tattwa, Kedudukan, dan Perbedaannya
Pulau Bali pernah mengalami musibah besar di mana rakyatnya melarat karena bencana alam yang sambung menyambung, tanaman pangan selalu rusak karena diserang hama, dan wabah penyakit menjalar cepat mematikan manusia dan binatang peliharaan.
Menurut Rontal Purana Pasar Agung hal ini disebabkan karena penduduk Pulau Bali tidak “ngaturang aci” dan bersembahyang ke Pura Besakih. Ketika pemerintahan Raja Mayadanawa selama 15 tahun, yaitu sejak tahun 959 Masehi sampai dengan tahun 974 Masehi, rakyat Bali memang benar dilarang ngaturang aci dan bersembahyang ke Besakih.
Para tentara kerajaan membangun pos penjagaan pertama di pinggir sungai Balingkang (letaknya di timur pasar Menanga sedikit lewat jembatan sekarang dikenal dengan pelinggih Yeh Ketipat) dan kedua, di Pura Manikmas sekarang, untuk menjaga agar tidak ada penduduk yang datang ke Besakih.
Setiap yang datang ditangkap lalu digiring ke hadapan raja Mayadanawa. Disaksikan oleh para patihnya, yaitu Kryan Patih Kalawong dan Kryan Bedawong, Raja lalu bersabda:
Renge ling ngong, samangke ngong angrenge wrtha kunang padartanya ring Basukih hana Dewa, hana Dalem; ndi hana Dalem waneh lawan ingong, ingong Dalem, ingong Dewa yatika tan tuhu mangkana sinembah dening wong Bali… dst
… iti ta wang ingong Dalem jati, yan ri Dalem Kadewatan dudu Dalem, ing Basukih dudu Dewa, ingong Dewa jati, ingong haturi widhi wedana mwah sembahen ta ingong asung uripta, mwah samidinta… dst
Jadi, singkatnya, Mayadanawa telah menyatakan dirinya: “akulah Dewa yang patut kamu sembah, janganlah menyembah Dewa yang ada di Besakih”.
Ini membuat para Dewa di Kahyangan memutuskan untuk memusnahkan Mayadenawa. Bhatara Indra diutus untuk tugas suci ini, dan akhirnya Mayadanawa dikalahkan. Bhatara Indra lalu menitahkan agar rakyat Bali membangun kahyangan di Desa masing-masing, taat ngaturang aci, dan bersembahyang di Besakih.
Aci yang dititahkan itu adalah: Eka Bwana, Panca Walikrama, dan Eka Dasa Rudra. Di saat itu Ida Bethara Samodaya nyejer di Besakih, dan ketangkil oleh seluruh rakyat yang tinggal di Pulau Bali.
Bagi Para Rsi, Mpu, dan arwah leluhur perintis pertama yang datang di Bali dibuatkan palinggih di Besakih agar dapat ngiring Ida Bethara Samodaya.
Itulah antara lain yang merupakan awal dibangunnya Pura Pedarmaan di Besakih. Kemudian perkembangan ini lebih pesat setelah kedatangan Mpu Kuturan di Bali pada tahun 1001 Masehi. Beliau menata kembali parahyangan mulai dari Sanggah Kemulan Rong Tiga untuk pawongan (rumah tangga),
Sanggah Pamerajan untuk beberapa rumah tangga, di mana dipuja arwah suci para leluhur yang berasal dari garis satu waris. Lebih besar dari Sanggah Pamerajan adalah berturut-turut: Pura Panti dan Pura Paibon, untuk penyungsungan bagi beberapa Sanggah Pamerajan.
Pura Dadia untuk penyungsungan bagi beberapa Panti dan Paibon, dan Pura Kawitan, untuk penyungsungan bagi beberapa Dadia.
Perbedaan status Pura-Pura tersebut ditentukan oleh:
Jumlah penyungsung.
Jumlah dan jenis Palinggih yang ada.
Historis (sejarah berdirinya Pura-Pura itu).
Perlu diketahui bahwa pada umumnya tiap-tiap Sanggah Pamerajan, Panti, Paibon, Dadia, Kawitan, bahkan Pura Pedarmaan tidak sama baik jumlah/ susunan palinggih, maupun Ida Bethara yang di-stana-kan, karena masing-masing mengikuti sejarah leluhurnya dahulu.
Mengenai asal satu waris dan hubungan ke-cuntaka-an atau saling sumbah pada umumnya sudah sulit ditemukan dalam tingkatan Kawitan, karena demikian panjangnya silsilah leluhur yang melewati batas waktu dalam hitungan abad (ratusan tahun).
Selanjutnya mengenai Palinggih Hyang Kompiang dapat diuraikan sebagai berikut: Palinggih Hyang Kompiang merupakan fenomena baru dalam perkembangan Agama Hindu di Bali yang dimulai sekitar tahun 1970, yaitu beberapa tahun kemudian setelah diadakannya Karya Agung Eka Dasa Rudra (1963) di Pura Besakih.
Ketika itu sebelum Karya, diwajibkan untuk “membersihkan” setra, sehingga pemeluk Hindu ramai-ramai ngaben. Upacara pengabenan dilanjutkan dengan nuntun Dewa Hyang/ Hyang Kompiang ke Pura Dalem Puri di Besakih.
Setelah nuntun lalu Dewa Hyang distanakan di Sanggah Pamerajan pada suatu bentuk bangunan gedong limas; palinggih itu dinamakan Palinggih Hyang Kompiang atau Palinggih Dewa Hyang.
Tempatnya berbeda-beda, ada yang di jeroan Sanggah Pamerajan, ada pula yang di jabaan Sanggah Pamerajan. Sumber sastra mengenai Palinggih Dewa Hyang ini tidak ditemukan.
Dasarnya membangun Palinggih Dewa Hyang kemungkinan adanya persepsi yang berbeda mengenai fungsi Kamulan yang menyatakan bahwa Kamulan adalah stana Sanghyang Tri Murti, yaitu Brahma, Wisnu, Iswara atau Sanghyang Tiga Sakti.
Oleh karenanya Dewa Hyang kurang tepat distanakan bersama-sama dengan Sanghyang Tri Murti, sehingga perlu dibangun palinggih tersendiri.
Banyak sumber sastra tegas-tegas menyatakan bahwa Kamulan adalah stana Atman yang sudah bersih.
Kutipan Lontar Gong Wesi:
Kutipan Lontar Usana Dewa:
Kutipan dari Lontar Siwagama:
…KRAMANIA SANG PITARA MULIHANG BATUR KAMULANYA NGUNI…
Selanjutnya adalah kutipan Lontar Purwabhumi Kamulan:
Semua bukti sastra itu dikuatkan dengan konsep Sanggah Pamerajan menurut Mpu Kuturan, bahwa Sanggah Pamerajan adalah tempat suci untuk pemujaan arwah leluhur, di mana palinggih utamanya adalah Kamulan.
Pemujaan terhadap roh leluhur yang suci didasarkan pada pengertian bahwa karena tujuan akhir adalah bersatunya Atman dengan Brahman (Ida Sanghyang Widhi atau Sanghyang Tri Murti atau Sanghyang Tiga Sakti) maka roh suci leluhur itu disembah, didoakan, dan di-identikkan dengan Sanghyang Tiga Sakti (dalam konsepsi Moksha).
Di sinilah letak perbedaan persepsi yang dikemukakan di atas.








