Senin, 02 April 2012

Filosofi Selonding Dalam Tatwa Hindu

      Filosofi Selonding Dalam Tatwa Hindu

      Selonding merupakan seni musik tradisional yang diperkirakan hidup sejak zaman Bali Kuno, di mana imperium kerajaan Majapahit belum masuk ke tanah Bali. Hanya, selonding sebagai seni tradisi manusia Bali Kuno tidak mendapat banyak perhatian dari kekuasaan raja-raja utusan Majapahit. Kesenian yang dikembangkan di Bali ketika itu hanyalah kesenian kraton yang dibawa seniman-seniman tanah Jawa. Akibatnya selonding terabaikan bahkan nyaris mengalami kepunahan. Sebagai khazanah peradaban manusia Bali Kuno, kajian sejarah terhadap selonding perlu kembali dilakukan untuk menghidupkan kembali kesenian yang memiliki kekuatan membawa ketenangan ini.Gamelan Selonding yang terbuat dari besi ini berlaras pelog tujuh nada ini tergolong barungan alit yang langka dan sangat disakralkan oleh masyarakat desa Tenganan Pagringsingan dan Bongaya (kabupaten karangasem).Gamelan ini dimainkan untuk mengiringi berbagai upacara adat di Bali Aga yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat dan untuk mengiringi tari Abuang,Perang Pandan (Makare-karean) dan lain-lain. Gambelan Selonding adalah merupakan peninggalan dari kegiatan berkesenian nenek moyang kita di masa silam.
Gambelan ini berfungsi menyajikan tabuh-tabuh petegak atau tanpa disertai tari-tarian, baik dalam kaitannya dengan pelaksanaan upacara Agama serta kepentingan-kepentingan lainnya. Namun perlu diketahui hanya dalam upacara Agama pada hari raya-hari raya tertentu saja Gamelan Slonding ini ditabuh atau dibunyikan, Gambelan Selonding merupakan salah satu gamelan yang di sakralkan oleh masyarakat desa Tenganan pangringsingan, Di kalangan masyarakat Tenganan Pagringsingan gamelan Selonding diberi nama Bhatara Bagus Selonding.
Sejarah munculnya Selonding dikaitkan dengan sebuah mitologi yang menyebutkan bahwa pada zaman dulu orang-orang Tenganan mendengar suara gemuruh dari angkasa yang datang secara bergelombang. Pada gelombang pertama suara itu turun di Bongaya (sebelah timur laut Tenganan) dan pada gelombang kedua suara itu turun didaerah Tenganan Pagringsingan. Setelah hilangnya suara itu diketemukan gamelan Selonding (yang berjumlah tiga bilah). Bilah-bilah itu kemudian dikembangkan sehingga menjadi gamelan Selondin seperti sekarang. Gambelan Selonding memang masih dapat bertahan dari terpaan gelombang peradaban manusia dalam rentang waktu yang cukup lama, dan ini hanya dimungkinkan oleh adanya suatu vitalitas nilai universal yang terkandung di dalamnya dan terjalin erat dengan masyarakat pendukungnya.
Barungan gamelan selonding terdiri dari delapan buah instrumen antara lain dua buah gangsa,empat buah oncangan dan dua buah penerang. Kalau dilihat bentuk keseluruhannya hampir semua sama yaitu berbentuk trapesium.
Adapun masing-masing pelawah selonding mempunyai ukuran sebagai berikut:
1.Instrumen gangsa wadon.
Panjang bagian atas : 76 cm
Panjang bagian bawah:69 cm
Lebar : 15,5 cm
Tinggi : 25 cm
2.Instrumen gangsa lanang
Panjang bagian atas: 76 cm
Panjang bagian bawah: 67 cm
Lebar: 14 cm
Tinggi: 25 cm
3.Instrumen oncangan lanang I
Panjang bagian atas: 41 cm
Panjang bagian bawah: 36 cm
Lebar: 15 cm
Tinggi: 20 cm
4,Instrumen oncangan wadon I
Panjang bagian atas: 43,5 cm
Panjang bagian bawah: 33,5 cm
Lebar: 18,5 cm
5.Instrumen oncangan wadon II
Panjang bagian atas: 57 cm
Panjang bagian bawah: 43 cm
Lebar: 18,5 cm
Tinggi: 20 cm
6.Instrumen oncangan lanang II
Panjang bagian atas: 43,5 cm
Panjang bagian bawah: 41 cm
Lebar: 16,5 cm
Tinggi: 20 cm
7.Instrumen penerang lanang
Panjang bagian atas: 61,5 cm
Panjang bagian bawah: 55 cm
Lebar: 16,5 cm
Tinggi: 21 cm
8.Instrumen penerag wadon
Panajng bagian atas: 61,5 cm
Panjang bagian bawah: 54 cm
Lebar: 16,5 cm
Tinggi: 21 cm
Sesuai dengan struktur dari lagu-lagu selonding bahwa tiap-tiap inbstrumen mempunyai tugas yang berbeda-beda dalam barungannya. Adapun tugas-tugas itu ialah seperti berikut:
  • Gangsa lanang, jumlah bilahnya delapan buah bertugas mengendalikan melodi lagu. Urutan nadanya: dong – dang – deng – dung – dang – dong – ding – dong .
  • Gangsa wadon, jumlah bilahnya delapan buah, bertugas mengendalikan melodi lagu. Urutan nadanya : ding – dong – dang – deng – dung – dang – dong – ding.
  • Oncangan lanang I, jumlah bilahnya empat buah, bertugas menjalin kotekan/ cecandetan. Urutan nadanya : dung – dang – dong – ding .
  • Oncangan lanang II, jumlah bilahnya empat , bertugas menjalin kotekan / cecandetan. Urutan nadanya : ding – dong – dang – deng
  • Oncangan wadon I, jumlah bilahnya empat buah , bertugas menjalin kotekan/cecandetan. Urutan nadanya : ding – dong – dang – deng .
  • Oncangan wadon II, jumlah bilahnya empat buah , betugas membuat jalinan kotekan/cecandetan. Urutan nadanya : dung – dang – dong – ding.
  • Penerag lanang, jumlahnya empat buah, bertugas memperjelas tekanan lagu. Urutan nadanya: dung – dong – ding.
  • Penerag wadon, julah bilahnya empat buah, bertugas memperjelas tekanan lagu. Urutan nadanya : ding – dong – dang – deng .
Adapun gending selonding yang sering di mainkan yaitu:
  • Ø Sekar gadung
  • Ø Nyangnyangan
  • Ø Rejang gucek
  • Ø Rejang ileh dll


Sumber : ni ketut suryatini.

Gong Suling bersifat Melodi Unisono

GONG SULING
    Gong Suling pada dasarnya merupakan pengembangan dari Gong Kebyar, teknik tabuh yang digunakan hampir semuanya berasal dari Gong kebyar, hanya saja pembawa melodinya tidak lagi gangsa yang terbuat dari krawang melainkan sejumlah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda. Gong Suling diperkuat dengan melodi bersifat unisono oleh ricikan rebab dengan memiliki dua utas dawai yang disebut wadon dan lanang. Terkait dengan fungsi suling dalam seni karawitan kebyar, hingga saat belum diketahui secara pasti kapan instrumen suling masuk sebagai bagian barungan gamelan tersebut. Munculnya gamelan gong kebyar sebagai salah satu bentuk ensambel baru dalam seni karawitan Bali pada abad XIX, tidak dijumpai adanya penggunaan suling dalam komposisi-komposisi kekebyaran yang diciptakan. Penyajian komposisi ”kebyar” yang dinamis, menghentak-hentak serta pola-pola melodi yang ritmis tidak memungkinkan bagi suling untuk dimainkan di dalamnya. kesenian ini adalah salah satu kesenian tua yang ada di kabupaten Jembrana. kesenian ini hanya ditampilkan pada saat ada upacara keagamaan saja. Namun dengan perubahan jaman, kesenian ini berubah menjadi sebuah seni umum yang dipertontonkan.

Sajian Gong Suling didominasi oleh suling. Diawali dengan ber­jajarnya para pemain suling dengan pemain Rincik, klenang dan klenyir di dalam sajiannya. Para pemain saling mengisi dalam sajian yang secara tidak langsung mengambil pola dari gong kebyar tersebut. Terjadinya per­kembangan fungsi suling tersebut merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik dimana suling yang pada awalnya memiliki fungsi sekunder yaitu instrumen pendukung, berkembang menjadi instrumen primer yaitu instrumen utama.

Gamelan Gong Suling adalah barungan gamelan yang didominir oleh alat-alat tiup suling bambu yang didukung oleh instrumen-instrumen lainnya. Gamelan ini berlaraskan pelog lima nada.

Gong Suling pada hakekatnya merupakan pengembangan dari Gong Kebyar, tabuh – tabuh yang dibawakan hampir semuanya berasal dari Gong Kakebyaran, hanya saja pembawa melodinya tidak lagi gangsa yang terbuat dari krawang melainkan sejumlah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda.

Salah Satu instrumen alam Gong Suling adalah terdapatnya suling bambu yang besar ukurannya. Panjangnya ada sekitar 35 inci dan berdiameter 1,7 inci. Wilayah nadanya lebih sedikit dari dua oktaf dan bermula pada nada B, di bawah nada C pusat. Ini adalah jenis suling vertikal dengan tiup ujung dan merupakan suling bass. Suling tersebut pada bagian bawah jika sedang dimainkan dalam kedudukan vertikal maka akan terbuka. Pada bagian bawah diraut atau diiris sedikit dari buku ruasnya. Lubang-lubang jari yang dinamakan song, terdapat pada bagian atas dari suling dan jumlahnya diselaraskan dengan tangga nada yang diperlukan. Ukuran suling pada kesenian Gong Suling yang panjang tersebut, mengharuskan pemainnya merentangkan tangannya dalam memainkan atau meniupnya dan ujungnya yang terbuka harus ditopangkan ke tanah.

Instrumen-instrumen yang digunakan dalam Gamelan Gong Suling ialah:

1. 2 (dua) buah kendang

2. 1 (satu) buah kajar

3. 1 (satu) buah kemong

4. 1 (satu) buah ceng-ceng kecek

5. 1 (satu) buah gong pulu

6. 1 (satu) buah kempur

7. 2 (dua) buah suling berukuran kecil

8. 4 (empat) buah suling berukuran sedang

9. 2 (dua) buah suling berukuran besar.
Lagu yang dimainkan dalam Gamelan gong Suling terdiri dari:

Gending petegak

Gending petegak yang dimaksud ialah gending-gending yang disajikan secara instrumental. Garis yang tegas untuk menyatakan cirri-ciri ini memang belum mengikat dalam hubungan praktik karawitan dalam masyarakat luas dewasa ini. Pengaruh kreasi local dimana instrument yang bersangkutan hidup sangat sering mempengaruhi fungsi atau tugas-tugas dari sebuah ansambel/barungan gamelan. Gending-gending petegak ini disajikan saat-saat diadakannya upacara adat-keagamaan. Sering juga karawita tari disajikan sebagai gending-gending petegak.

Penyajian gending-gending petegak seperti disinggung diatas, bentuknya bentuknya termasuk jenis-jenis tabuh. Ada bagian-bagian tertentu cara memainkannya diulang-ulang dan bagian penghubung yang berfungsi sebagai perantara dari bagia-bagian yang dihubungkan. Bagian yang harus diulang tidak diharuskan dengan satu perhitungan pasti, tetapi tergantung berapa kali pemain ingin mengulang bagian tertentu itu, kemudian beralih dengan kode-kode tertentu dari satu atau lebih alat yang berfungsi mengendalikan irama (biasanya instrument kendang) dan yang mengendalikan melodi (biasanya instrument terompong) atau kalau tidak memakai instrument terompong biasanya yang mengendalikan melodi adalah instrument gangsa giing. Alat pengendali irama dengan pengendali melodi bekerjasama untuk memimpin tempo, dinamika, dan tujuan penyajian pada waktu lagu itu beralih. Demikian juga kerjasama antara kedua tugas alat pengendali irama dan pengendali melodi selalu dibutuhkan dalam menyelesaikan lagu.

Adapun tabuh petegak yang dimainkan dalam barungan Gamelan Gong Suling diantaranya:

1. Sinom ladrang

2. Lengker

3. Selisir.

4. Sekar gadung

5. Bapang gede, dll

Gending untuk mengiringi tari

Sistim penyajian gending-gending jenis ini disesuaikan dengan kepentingan penyajian tarian yang diiringi. Jumlah dan jenis gending-gending ini sangat banyak, sama banyak dengan jumlah dan jenis tari-tarian yang ada. Hampir semua jenis barungan gamelan Bali dapat dipakai untuk mengiringi tari-tarian, kecuali barungan gamelan Gambang belum popular untuk kepentingan musik iringan tari. Dalam hubungan dengan gending-gending iringan tari, maka gending yang termasuk jenis gending pengilak memegang posisi yang menonjol. Sering juga beberapa jenis gending untuk satu iringan tari, meskipun dimainkan hanya dengan satu barungan gamelan saja.

Gamelan angklung

Gambelan angklung

Gambelan angklung adalah gambelan khas bali yang sering digunakan dalam prosesi/upacara kematian. Gambelan angklung menggunakan laras selendro dan tergolong barungan madya yang di bentuk oleh instrument berbilah dan berpencon dari krawang, kadang-kadang ditambah dengan angklung kocok (yang ukuran keci).
Di bali selatan gambelan ini hanya menggunakan 4(empat) nada sedangkan di bali utara menggunakan 5(lima) nada. Berdasarkan konteks penggunaan gambelan ini serta materi tabuh  yang dibawakan angklung dapat dibedakan menjadi :
Angklung klasik   :  Di mainkan untuk mengiringi upacara (tanpa tari-tarian)
Angklung kebyar  : Di mainkan untuk mengiringi pegelaran tari maupun drama
Satu barung gambelan angklung bias berperan sebagai keduanya, karena sering kali menggunakan penabuh yang sama. Di kalangan masyarakat yang luas gambelan ini di kenal sebagai pengiring upacara  Pitra Yadnya(ngaben). Di sekitaran Denpasar dan beberapa tempat lainnya, penguburan mayat di iringi dengan gambelan angklung yang menggantikan fungsi gambelan gong gede yang di pakai untuk mengiringi upacara Dewa Yadya (odalan) atau juga upacara lainnya.
instrument gambelan angklung terdiri dari :                                                                                                                             * 6-8 pasang alat yang terdiri dari sepasang jegogan, jublag, dan selebihnya pemade dan kantilan
* 3-4 pencon, reong angklung kebyar menggunakan 12 pencon
* 2 buah kendang kecil klasik dan 2 buah kendang besar jika memainkan angklung kebyar
* 1buah tawa-tawa
* 1 buah kempur kecuali angklung kebyar menggunakan gong
Gangsa angklung adalah suatu instrument yang mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari (neng,ndung,ndang, nding) dengan gaya nada selendro. Salah satu gangsa angklung biasanya bisa langsung berfungsi sebagai pengugal atau pemimpin dalam barungan angklung itu. Instrument gangsa ini biasanya menggunakan alat pukul panggul atau juga panggul gender. Cara memainkannya adalah satu nada di pukul kemudian d tutup sesuai dengan irama yang kita inginkan.
Kantialan angklung adalah instrument yang mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari nada (ndeng, ndung,ndang, nding)tetapi dengan nada lebih tinggi dengan gaya selendro. Kantilan ini berfungsi sebagai pemanis dalam permainan atau gending angklung tersebut. Instrument ini juga menggunakan alat pukul panggul atau juga menggunakan panggul gender
Jublag angklung adalah instrument yang juga mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari nada(ndeng,ndung,ndang,nding) tetapi nadanya lebih rendah dengan gaya selendro. Jublag ini berfungsi sebagai penandan dalam gending angklung itu sendiri. Insterument ini menggunakan alat pukul panggul tetapi ukurannya lebih besar dan d bawah panggul itu menggunakan karet agar suara jublag terdengar lebih merdu
Reong angklung adalah instrument yang berpencon dengan gaya nada selendro dan dimainkan oleh 4(empat) orang pemain atau penabuh. Instrument ini menggunakan alat pukul panggul tetapi panggul itu di lilit dengan benang dengan tujuan agar suara reong tersebut bisa lebih merdu
Kendang angklung, biasanya kalau untuk mengiringi upacara kematian kendang angklung yang digunakan adalah kendang yang berukuran kecil karena lagu yang dimainkan adalah lagu ysng bersifat sedih tetapi dalam angklung kebyar biasanya menggunakan kendang yang ukurannya lebih besar karena bentuk lagunya lebih bersemangat dan juga berbentuk kekebyaran. Instrument ini dimainkan oleh 2(dua) orang penabuh. Kalau menggunakan kendang berukuran kecil cara memainkannya hanya memukul bagian samping kanan yang diameternya lebih besar atau mukaknya saja, tetapi kalau menggunakan kendang besar cara memainkannya menggunakan 2(dua) tangan dengan memukul bagian samping kendang dengan motif pukulan seperti gegilak, dll
Tawa-tawa angklung merupakan alat sebagai tempo yang membawa lagu itu cepat atau pelan.
Kempur angklung merupakan suatu alat untuk menunjukkan lagu itu sudah habis, tetapi kalau angklung kebyar biasanya menggunakan gong, karena jenis lagunya berbentuk kekebyaran. Ada juga instrument kecek dan suling yang menjadi bagian dari barungan gambelan angklung tersebut.

Gamelan Gambang Dalam Upacara Pitra Yadnya


Gamelan GambangSecara epistemologis, pengertian Pitra Yadnya muncul dari arti kata Pitra dan Yadnya. Dari beberapa sumber literatur, diketemukan berbagai pemaknaan terhadap kata “pitra”. Singgih Wikarma (2002) dalam bukunya Ngaben, menguraikan bahwa Pitra berasal dari kata Pitr yang artinya leluhur, yadnya berasal dari kata Yaj berarti berkorban. Dari arti kata di atas, Pitra Yadnya berarti bentuk pengorbanan suci yang dilaksanakan secara tulus ikhlas kepada para leluhur. Di lain pihak Sudarsana (2002:9) menyebutkan bahwa “pitra” adalah sama pengertiannya dengan arwah dan “pitra” berasal dari kata “pitri” yang artinya unsur-unsur kekuatan Panca Maha Bhuta yang membentuk stula sarira (jasad).
Terdapatnya perbedaan pengertian di atas, hal ini karena menurut sumber acuan yang dipergunakan oleh masing-masing penulisnya. Namun demikian esensi dari upacara ini masih tetap sama dimana pada intinya pelaksanaan upacara pitra yadnya merupakan salah satu bentuk pengorbanan suci (yadnya) yang diperuntukkan bagi roh, arwah para leluhur atau orang-orang yang telah meninggal dunia. Dengan kata lain, upacara ini merupakan upaya untuk mempercepat proses pengembalian/penyucian unsur-unsur Panca Maha Bhuta agar kembali ke sumbernya.
Adapun bentuk upacara pitra yadnya memiliki runtutan dari upacara orang meninggal hingga distanakan atau tempatkan pada tempat suci keluarga (sanggah). Pada saat baru meninggal, kekuatan Panca Maha Bhuta (pitra/roh) orang yang meninggal disebut dengan “petra/pitri/pitra”, setelah dilaksanakan penyucian tahap pertama melalui upacara atiwa-tiwa (ngringkes), maka sebutan pitra meningkat menjadi “pitara” (pitarah). Selanjutnya setelah dilakukan penyucian melalui upacara ngaben, disertakan dengan pengaskaran maka kesuciannya akan meningkat sehingga mendapat sebutan Dewa Pitara. Penyucian Dewa Pitara melalui upacara pemukuran akan meningkatkan lagi Dewa Pitara menjadi Hyang Pitara. Setelah berstatus Hyang Pitara, upacara penyuciannyapun terus dilaksanakan melalui upacara Nilapati yaitu ngunggahang Bethara Hyang di Kemulan, maka Hyang Pitara telah kembali ke sumbernya yaitu ke “Sang Hyang Prakerthi” dan pada saat inilah mendapat sebutan Bethara Hyang (Sudarsana, 2002:12).
Dapat disimpulkan bahwa, upacara Pitra Yadnya merupakan upacara penyucian yang diperuntukkan bagi roh orang yang telah meninggal yang dilaksanakan melalui rangkaian upacara pengringkesan, pengabenan, memukur hingga nilapati atau ngelinggihang. Berkenaan dengan rangkaian upacara tersebut, salah satu aspek yang senantiasa mengiringi pelaksanaannya adalah adanya gamelan yang berfungsi sebagai musik pengiringnya.
Dalam pelaksanaannya di masyarakat Kota Denpasar, apabila dirinci dari awal pelaksanaan upacara pitra yadnya hingga rangkaiannya yang terakhir yaitu Nilapati digunakan berbagai jenis gamelan sebagai musik pengiringnya. Kebiasaan masyarakat di Kota Denpasar, terkait dengan rangakaian upacara tersebut dipergunakan gamelan Balaganjur, Gender Wayang, Angklung, Gong Kebyar, Gambang, Gong Luang (Saron).
Terkait dengan penggunaan gamelan Gambang dalam upacara pitra yadnya, pada salah satu lontar yang berkaitan dengan pelaksanaan upacara Sawa Prateka disebutkan: Terjemahan secara bebas adalah sebagai berikut: Kalau mengadakan sawa prateka, pelaksanaannya berbadan mayat, memakai bade (wadah), menurut aturan keturunan (triwangsa), disertai banten taben, damar kurung, memakai petulangan (tempat pembakaran) lengkap sesuai dengan keperluannnya. Sorganya terletak di selatan, namanya budalaya, kawahnya geni murub (api berkobar), penghalangnya bernama dorokala dan kingkara. Bidadarinya Gagar mayang, Pendetanya Ramaperasu, Dewanya Bhatara Brahma, keseniannya adalah Gambang. Air Sucinya adalah kamandalu akhirnya dibakar di kuburan, abunya dihanyutkan di laut atau boleh juga ke sungai.
Dari uraian yang terdapat dalam lontar tersebut, jelas bahwa gamelan Gambang merupakan salah satu perangkat alat musik tradisional yang sangat diperlukan pada pelaksanaan upacara pitra yadnya di samping beberapa jenis gamelan lainnya. Hal ini juga terungkap dalam prasasti dan Purana Tatwa Pura Kelaci disebutkan bahwa gending Kebo Lelatik, Misa Gagang merupakan gending gambang yang dapat menghantarkan Sang Hyang Atma (roh) menuju sorga. Sebagaimana terdapat dalam purana tersebut (halaman 39), dalam rangka pelaksanaan upacara pelebonan (ngaben/pembakaran mayat) Sang Prabu ring Gelgel diuraikan sebagai berikut terjemahan bebas:
“… kalau tabuh gender menyesuaikan dengan jalur keliling bade (usungan mayat), wayang beber sudah diletakkan berjajar di tempat usungan mayat, suara kendang bergemuruh, angklung, kidung upacara sudah berbaris sesuai dengan urutannya. Di luar tempat persemayaman mayat Gong Gede dimainkan, Gong Saron di halaman puri. Gambang juga sudah dimainkan oleh I Gusti Ngurah Sentong, lagu Misa Gagang. Kebo Lelatik, Gagak Ora dan yang lainnya menyajikan jalinan nada yang sangat menyenangkan karena gending tersebut memang penghantar Sanghyang Atma (roh)…”
Dari uraian tersebut jelas bahwa gamelan Gambang merupakan salah satu gamelan yang memiliki nilai sakral dalam upacara pitra yadnya. Keberadaannya memiliki makna religius yang sangat penting yang dipercaya dapat menghantarkan roh orang yang meninggal menuju sorga. Namun demikian, walaupun disebutkan bahwa gamelan Gambang merupakan gamelan penghantar roh, dalam pelaksanaanya tidak semua upacara pitra yadnya yang dapat mempergunakan gamelan gambang. Hal ini sangat tergantung dari tinggi-rendahnya tingkatan upacara yang dilaksanakan, sesuai dengan situasi, kondisi, derajat serta kemampuan financial penyelenggara upacara.
Mengenai tingkatan upacara pengebenan, dari berbagai sumber sastra yang berhasil dikumpulkan oleh Sudarsana (2008:77-78) disebutkan ada empat tingkatan yaitu mewangun, prenawa, swasta dan ngerti parwa. Sesuai dengan situasi dan kondisi pelaksanaannya, masing-masing dari tingkatan tersebut dibagi lagi sehingga terdapat 10 bentuk pengabenan.
Upacara ngaben di atas dapat dilaksanakan dalam tingkatan nista, madya dan utama sesuai dengan kemampuan dalam memenuhi berbagai persyaratannya. Pengabenan mewangun merupakan tingkatan pengabenan tertinggi dimana pelaksanaan upacara pengabenannya mempergunakan kuantitas upacara utama dan memakai atribut-atribut secara lengkap menurut ketentuan sastra agama Hindu (Sudarsana, 2008:78). Tingkatan pengabenan ini biasanya dilaksanakan bagi orang-orang yang memiliki kedudukan, terhormat, pengaruh yang luas di masyarakat, seperti raja dan golongan ksatria lainnya, pendeta, pemangku desa. Pengabenan pranawa merupakan tingkatan upacara pengabenan yang kuantitasnya lebih kecil dari mewangun namun memiliki kualitas yang sama dan tergantung dari pelaksanannya. Berbagai kalangan (kedudukan dan kasta) dapat melaksanakan upacara pengabenan dalam tingkatan ini sesuai dengan kemampuan dalam melaksanakannya. Sedangkan tingkatan upacara yang paling sederhana adalah swastha dan ngerti parwa.
Keterkaitan antara pemanfaatan gamelan Gambang dalam upacara ngaben, secara rinci telah disebutkan bahwa penggunaan gamelan ini dilakukan pada tingkatan tertinggi yang disebut dengan ngaben mewangun. Disajikannya Gambang dalam tingkatan pengabenan ini lebih disebabkan adanya keyakinan bahwa gending-gending yang disajikan seperti gending Kebo Lelatik, Misa Gagang, Gagak Ora dan yang lainnya dapat menghantarkan roh orang yang meninggal menuju sorga. Sebagaimana diilustrasikan dalam pengabenan Ida Betara Dalem Gelgel selaku penguasa Bali pada masa yang lampau disebut beberapa perlengkapan upacara seperti bade tumpang 11 dengan berbagai kelengkapannya termasuk wayang beber, nagabanda, lembu, serta berbagai jenis kesenian seperti gong saron, gambang, gong metrompong (gong gede), angklung, baris poleng (ketekok jago) dan berbagai perlengkapan upacara lainnya. Keseluruhan perlengkapan tersebut diyakini untuk mempermudah pencapaian roh ke alam sorga.